Ricky Ingin Abadi – Fanfiction Tenggat Waktu (Deadline)

Ricky Ingin Abadi – Fanfiction Tenggat Waktu (Deadline)

Credit: Unsplash

*Spoiler alert* Cerita ini mengandung spoiler dari lakon Tenggat Waktu (Deadline) karya Jati Andito

Aku masih tepekur memandangi kepalaku yang tersuruk di meja saat cahaya mulai menembus kaca di lantai 33 tempatku berada. Semburat warna kuning membayang di langit-langit ruangan berlapis kayu, lalu merambat menerangi seisi lantai. Sinarnya menegasi lampu-lampu gantung dengan bentuk bulat, meja-meja panjang, kursi-kursi kerja, whiteboard dengan gambar bohlam dan panah warna-warni, mug bekas kopi, kemudian botol kaca minuman penambah tenaga yang tergeletak pasrah di lantai. 

Botol berwarna coklat tua itu tidak pecah meskipun terbanting dan terantuk. Botol berlabel sebuah merek dengan gambar banteng itu utuh meski isinya tumpah merembesi karpet di sekelilingnya. Botol itu tak retak meski kosong–seperti tubuh bergeming yang setengah terbaring di meja.

Tak ada luka, tak ada lebam, tak ada napas.

Keduanya–botol dan tubuh itu–sama-sama tak lagi berguna.

Sesuatu di dadaku membesar seperti balon. Sebuah pertanyaan mengimpit dan mendesak. Bagaimana kalau aku tak lagi berguna? Bagaimana kalau aku tak lagi diingat? Bagaimana kalau sampai akhir pun aku bukan siapa-siapa?

Aku menghitung-hitung, mencoba mengunjungi seluk-beluk memoriku. Berapa banyak tulisanku menang kompetisi? Berapa kali tombol submit dan publish kutekan? Berapa jumlah kata yang kutabung di dokumen-dokumen word–kupahat dan kupoles bak mahakarya yang belum tahu kapan mengundang kagum dan jumawa?

Berapa banyak pun angka kukira dan kutebak, rasanya masih tak cukup. Ini di luar rencana. Seharusnya aku menulis di tempat ini setidaknya satu tahun lagi. Seharusnya mimpi dan kewajibanku bisa berjalan beriringan. Menjadi penulis yang dielu-elukan dan menjadi anak berbakti yang dibanggakan–seharusnya aku bisa menjadi keduanya. Aku bersabar dan bekerja keras demi semua itu. Karena menjadi penulis lepas cukup memberiku makan, tapi tidak dengan ibuku yang janda dan adikku yang masih kuliah tingkat dua.

Itu sebabnya aku ada disini. Supaya gajiku tidak timbul tenggelam. Supaya gajiku bertandang rutin setiap tanggal tua untuk menyambung hidup bulan depan. Aku tidak keberatan dikenal sebagai Mas Ricky si buruh tulis agensi sebelum orang mengenalku sebagai Ricky Respati si penulis fiksi yang karyanya mengusik dan memantik.

Sudah baca karya terbaru Ricky Respati?

Tahu, tidak? Tulisan Ricky Respati diadaptasi ke layar lebar lagi!

Ricky Respati terpilih menjadi emerging writer di lingkar penulis Bali!

Tulisan Ricky Respati menjadi suara dari anak muda di zamannya, 50 tahun yang lalu.

Aku ingin menjadi penulis seperti Ricky Respati.

Ricky Respati. Ricky Respati.

Ricky yang abadi.

Mendadak aku teringat salah satu karyaku yang sedang kucicil sejak enam bulan lalu. Halaman demi halaman kutambahkan di sela waktuku berjibaku dengan rangkaian copy dan caption minuman ringan, pembersih wajah pria, dan susu protein. Seharusnya aku meneliti pola pikir mnusia-manusia usia aktif dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas, tapi pikiranku tak bisa lepas dari bayangan manusia-manusia yang terjebak dalam kereta commuter di jam sibuk. 

Kubayangkan mereka yang wangi parfumnya pudar berganti aroma asam peluh. Mereka yang punggung, tumit, dan pergelangan tangan sakit menahan bobot badan akibat kehabisan kursi yang direbutkan semua orang. Mereka yang memaki tangga penyeberangan peron yang turun naik. Mimpi di hati mereka kerap dibanjiri rasa kecewa, malu, putus asa–persis seperti minuman keras yang dioplos berkali-kali. Tak ada lagi rasanya. Tak lagi memabukkan dan membuat melayang.

Tokoh-tokoh dalam ceritaku itu sengaja tak kuberi nama dan identitas. Hanya detail karakter yang kubuat agar pembaca teringat dengan seseorang yang mereka kenal di perjalanan. Perempuan dengan rok span dan sepatu sneakers, satu tangan memegang tali tas yang tersampir melintang di badan, tangan lain menjinjing tas berisi sepatu pantofel dengan hak yang berdampingan dengan kotak bekal. Laki-laki dengan jaket windbreaker hitam dan ransel laptop besar di punggung, masker menutup mulut, alis tertaut. Anak muda dengan kacamata bulat tanpa bingkai dan earphone terpasang di kedua telinga, sepanjang perjalanan matanya menatap nanar pada jendela seperti orang tua yang menanti sulungnya pulang perang.

Aku belum benar-benar tahu bagaimana cerita itu akan berakhir, tapi aku tahu apa yang aku mau–aku ingin pembacaku merasa tersentil. Aku ingin mereka berkaca dan melihat sejauh mana mereka berjalan memutar. Aku ingin mereka memaafkan diri mereka yang maksud hati ingin mencari jalan terbaik tapi lupa ke mana mereka menuju. Jalan yang paling aman, jalan yang paling terang, jalan yang direstui, tapi dompet tergerus pungli, betis kebas mati rasa, leher kaku dan pikiran terus berputar seperti kaset rusak.

Karya itu tak sempat kubagi pada dunia. Hanya aku pembacanya. Namun aku baru tersindir sekarang, di kala jalanku sudah terhenti terlalu lama, langkahku bercabang terlalu jauh.

Keluh yang kutelan, marah yang kupendam, untuk apa semua itu kulakukan? Menumpuk dan menimbun, menyimpan dan menabung, menahan dan mengunci. Berbotol-botol kafein kutenggak agar aku tetap tegak. Mata yang perih kukompres dengan pantat kaleng soda dingin. Pengorbanan kuanggap investasi. Aku tak ingin rebah, aku ingin berjuang tanpa menyerah.

Hanya satu tenggat waktu lagi, setelah itu aku bisa cuti. Hanya satu tenggat waktu lagi, setelah itu aku bisa pulang ke rumah ibu. Tapi pekerjaanku tak pernah kehabisan tenggat waktu. Tenggat waktu muncul hanya dengan ketikan di dokumen bernama timeline yang dihias dengan warna merah dan kuning. Bergeser maju mundur karena diskusi singkat di jam makan siang atas alasan kejadian di luar rencana. Jadi kapan aku bisa cuti dan bertemu ibu?

Kapan aku bisa menulis karyaku tanpa khawatir lagi?

Kapan aku bisa menjadi abadi?

Kapan aku kembali?

Ternyata jawabannya baru ada setelah jantungku dipaksa berhenti oleh situasi.

Lampu baca di mejaku tidak lagi menjadi satu-satunya penerangan. Cahayanya tertandingi oleh sinar matahari yang semakin benderang. Bak panggung sandiwara yang menutup babak akhir, sang pelakon yang awalnya menjadi satu-satunya perhatian tak lagi sendirian. Semuanya terlihat, semuanya tersingkap, tubuh lunglai di hadapanku itu menjadi satu benda di antara benda-benda lainnya. Tubuh itu tak ada bedanya dengan lampu, kursi, meja, whiteboard, dan mug kopi kosong. Tak bergerak.

Ricky Respati tak lagi bergerak.

Tiba-tiba ada langkah berisik di ujung ruangan. Dua orang berseragam putih dengan garis hitam bergerak masuk melewati sekat kayu setinggi pinggang. Seseorang yang berhidung pesek membawa nampan dan lap kain, seseorang yang kurus membawa sapu dan pel. Mereka tertawa-tawa, berkata sesuatu tentang pertandingan bola yang menyebalkan dan motor yang ngadat.

Pria dengan perawakan kurus bergegas masuk ke ruang rapat sementara pria dengan hidung pesek mengumpulkan gelas dan mug yang tertinggal di meja-meja karyawan. Pria dengan hidung pesek itu berhenti saat melihat botol kaca yang tergeletak pasrah di karpet dan tubuh yang melintang tak wajar di meja.

Seperti gerak lambat, aku bisa melihat ekspresi pria itu yang awalnya bingung menjadi ngeri. Dia berteriak memanggil pria kurus di ruang rapat berkali-kali, semakin lama semakin keras. Saat pria kurus temannya itu tak kunjung datang, si pria pesek berlari menyusulnya. Kemudian keduanya berlari ke meja di sudut ruangan dengan lampu baca yang masih menyala. Napas mereka terengah, kedua alis mereka naik ke atas. 

Gak mungkin cuma tidur, matanya melek begitu. Badannya kaku, dingin sekali. Kata si pria pesek dengan logat medok.

Mas Ricky! Mas! Si pria kurus menggoncang-goncang pundak dari tubuh di hadapanku. Rido namanya, beberapa kali dia menawariku teh panas dan camilan saat aku bekerja lembur.

Ah, dia ingat namaku. Dia akan menyampaikan kejadian ini pada orang lain, orang lain itu akan menyampaikan pada orang lain lagi yang mungkin ditemui di jalan, di kampung, di warung, di bengkel. 

Ricky ingin abadi. Aku memulai perjalananku dengan mimpi untuk menginspirasi, tapi siapa yang menyangka aku adalah cerita yang menunggu dituliskan, lagi dan lagi.


Author’s Note:

“Tenggat Waktu (Deadline)” merupakan sebuah lakon yang ditulis dan disutradarai oleh Jati Andito. Pembacaan naskahnya dipentaskan oleh HahaHihi Kolektif dan didukung oleh Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) pada 27 April 2024 yang lalu di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta.

Lakon “Tenggat Waktu (Deadline)” membahas tentang budaya kerja pekerja kreatif Indonesia yang diwakilkan oleh 5 orang pemeran utama dari ranah pekerja agensi, jurnalis, tim kreatif, voice artist, dan NGO activist.

Dari semua tokoh yang dipentaskan, saya merasa paling relate dengan Ricky, seorang penulis wara yang bekerja untuk sebuah agensi dan mengelola 7 akun social media. Ricky ingin menjadi penulis dan sedang melangkah untuk meraih mimpinya itu. Namun Ricky meninggal saat bekerja di kos akibat kelelahan. Ricky membuat saya teringat akan kekhawatiran, ketakutan, rencana-rencana yang membuat saya ragu untuk meraih mimpi. Dalam cerita ini, Ricky saya interpretasikan sebagai copywriter fulltime dari sebuah agensi yang bekerja WFO.

Saya beruntung sekali mendapat kesempatan untuk melihat sejak naskah “Tenggat Waktu (Deadline)” masih dikembangkan di kelas menulis naskah lakon Salihara di awal 2024 yang lalu. Ada rasa bangga yang membuncah waktu melihat Tenggat Waktu ditampilkan di depan audiens-nya, bahkan menjadi pembuka dari sebuah diskusi seru tentang nasib pekerja kreatif Indonesia oleh Ratri Ninditya, Wulan Putri, Daniella F. Praptono, dan Ikhsan Raharjo.

Ternyata, ada banyak sekali dilema dan celah dalam regulasi yang membuat pekerja kreatif rentan dieksploitasi tenaga, waktu, juga kreativitasnya. Saya sering mendengar keluhan terkait ini, tapi saya baru benar-benar tahu seberapa jauh ini membuat pekerja kreatif menderita. Beberapa kali kata-kata “Pekerja Kreatif juga Buruh!” diungkapkan saat acara dan diskusi berlangsung.

Saya masih ingat kata-kata pengampu Joned Suryatmoko saat kelas naskah lakon dulu bahwa dalam perjalanannya pertunjukkan teater seringkali menjadi wadah untuk menyuarakan aspirasi.

Semoga Tenggat Waktu karya Jati Andito bisa menjadi jalan untuk lingkungan kerja kreatif yang lebih sehat dan adil.