Self-Love: What I’ve Found So Far

May is mental health awareness month!

Berhubung lagi cocok momennya dan emang gue lagi butuh outlet untuk kembali meluruskan emosi gue yang mulai dangdut denial setelah sadar ga bisa main the sims ama nulis seperti dulu.

Okelah mari ngeblog ampe muntah.

Jadi, sesuai janji di twitter. Gue mau cerita soal perjalanan self-love gue.

Susah sih. Dampaknya bagus. Tapi susah.

Jadi sejak awal psikoterapi setahun lalu, eh beneran loh setahun, gue tuh mulai di… maret 2021 kalau ga salah. Gue udah sempet kepikiran bahwa this will change me and everyone around me. I’ll find new things, but I will also leave several things behind.

Dan salah satu yang gue temukan soal self-love ini. Yang mana untuk menemukannya, ada beberapa hal yang gue harus tinggalkan. Orang. Kebiasaan. Pola pikir.

Yang paling menantang soal pola pikir self-love ini buat gue adalah keinginan untuk sayang sama diri sendiri hanya dalam keadaan ideal (versi gue).

Suka terjadi otomatis sih.

Saat gue melihat timbangan dan gue mikir “oh 5 kilo lagi. 5 kilo lagi. Baru gue tenang.”

Setelah 5 kilo. Gue akan berpikir “3 kilo lagi. 3 kilo. baru gue tenang.”

And then there’s a certain kind of clothes that I want to wear.

A certain kind of education that I want to attain.

A certain kind of job that I want to do.

A certain kind of identity that I want to establish.

But rarely the one that I have right now.

Dan pas baru belajar self-love dan lagi pelan-pelan belajar bangun boundaries. Belajar ngomong yang baik sama diri sendiri. Belajar untuk bisa kasih diri sendiri yang terbaik: makanan terbaik, istirahat terbaik, lingkungan yang baik, yang bisa gue kasih. Belajar untuk speak up apa yang gue rasa, minimal sama diri sendiri.

Ada kalanya sebel sama diri sendiri dan itu wajar, tapi udah dibekalin cara untuk tahu rootnya di mana (mostly childhood memories dan latest event) dan efeknya apa (sepi, unhealthy obsession). Udah tahu harus apa (melukis, see yourself, don’t run and hide, face it).

I did great. Udah ada efek baiknya. Tapi kendala terbesar ya itu saat ini: to fully accept. Without terms and conditions.

Kemarin akhirnya coba. Udahlah. Let’s stay real. It’s okay to want to express myself in some way. But it’s not okay to risk my physical and mental health while doing so. You know it will hurt anyone to hear a comment like: “I will love you if you are thinner, more emotionally stable, overachiever,”. It’s a thing that you will never say to people that you care about. Why say and do that to yourself?

It’s okay to want to express myself in some way. But it’s not okay to risk my physical and mental health while doing so.

Jadi gue coba gali-gali sebenernya maunya apa sih. Mana set of identity yang emang gue mau. Mana yang merupakan tuntutan dari luar. Mana yang gue harapkan untuk dapat membuat hidup gue lebih baik. Mana yang bisa gue kontrol dan mana yang tidak. Mana yang buat gue actually happy. Mana yang gue butuhkan untuk bisa maintain percaya diri dengan sehat, tidak menyakiti diri gue ataupun orang lain.

Banyak yang beririsan. Tapi yang gue cukup terkejut adalah. Sebagian besar yang gue inginkan itu ga bisa diukur dan tidak bergantung pada berat badan. Bahkan ada yang bertentangan, contohnya pengin lebih sehat, bisa jalan2 tanpa ngos2an, bisa percaya sama diri sendiri. Dan itu berarti, yes, ada kebutuhan untuk bisa meringankan bobot, tapi ada juga untuk bangun massa otot. Dan massa otot lebih berat dari massa lemak.

Yet, gue masih terobsesi sama berat badan. Dan kadang masih menggantungkan self-love gue di sana.

Seinget gue. Gue udah diet dan disuru merhatiin berat badan dari kecil. I used to avoid milk products betapapun gue suka, karena katanya bikin gendut. Udah cukup minum banyak susu waktu kecil, pas gede ga usah.

Tapi sekitar 2 tahun yang lalu, ada temen kantor yang saranin gue minum susu bear brand setelah denger curhatan gue yang sering banget flu. Gue cape minum obat terus. Sinus gue selalu kambuh kalau flu. My friend told me to try. Dan akhirnya karena gue nyerah yaudah deh gue coba minum susu kalau gejala flu.

It works. Dan rambut gue agak menebal, yang dulunya rontok parah.

Dari situ gue jadi mulai mikir: seseorang bisa gendut dan kurang gizi ya.

Gue mikir apa selama ini badan gue marah. Karena sebenernya gue sangat suka keju. Gue suka pasta. Gue suka pie. Gue suka mi. Gue suka dark chocolate. Gue suka moka. Gue suka kentang. Gue suka mencoba makanan dari berbagai tempat. It’s in my blood: to be adventurous with food. To listen to one’s story about food. To learn about one place’s culture from their food. Tapi setiap makan rasanya kayak cheating dan balas dendam.

So I’m trying a new way of living right now. Makan happy, sehat dan olahraga aja. Ukur lingkar2, tapi gak sering2 ukur berat badan. It’s scary. Takutnya tuh kalau tiba2 ketemu siapa terus dibilang “wah lo gendats banget ya. dulu gak gini” terus jadi kepikiran apakah ini gara2 gue ga nimbang (padahal ya gak juga sih, nimbang pun sama aja). Terus takut kalau one day harus check up ke RS dan disuru nimbang terus setres.

Tapi kalau dipikir kejadian kayak dijulidin orang atau check up RS gitu kan paling cuma 1-2 kali setahun. Compared to nimbang tiap hari dan tiap hari ngomong ke diri sendiri “Gue mau 3 kilo turun. Then I will love myself more after that,” and blame myself after a great night with food, after a great muscle building exercise.

Padahal gue butuh bangun muscle juga. Gue pengin makan2 enak juga.

Mungkin one day gue akan bisa nimbang santai tanpa berpikir gue harus jadi kayak apa untuk merasa lebih baik. Tapi untuk saat ini. I’ll try this new way.