A New Kind of Strong

Belakangan baru menyadari betapa kuatnya sebuah kata yang simpel:

There’s nothing I could do. This is enough.

Mungkin kesannya lemah. Sebelumnya pun gue merasa kalimat itu lemah banget (gue bisa apa lagi yaudalah, gue ga bisa apa2 lagi) tapi kalau di gue rasanya TERNYATA melegakan banget.

Dalam salah satu sesi konseling gue, psikoterapis gue pernah nanya gini setelah denger cerita panjang-lebar gue soal gue berusaha akan sesuatu tapi gak kunjung mendapatkan sambutan yang baik:

Kenapa harus kamu yang berjuang, Amanda?

Waktu itu gue bingung banget.

Lah terus kalau ga diperjelas, selamanya ga jelas gitu? Kalau semuanya diem2 aja, gak ada yang gerak, selamanya diem aja gitu?

Somehow konsep untuk diem aja dan bersikap pasif dalam menyelesaikan masalah itu buat gue gak nyaman banget. Kayaknya ini karena gue ada masa di mana gue pernah bener2 ga aktif dan ga bergerak menyelesaikan masalah yg gue punya dan itu rasanya ga enak. Stuck dan gue berasa ga berkembang.

Tapi setelah gue coba proses berbulan2. Saat gue lagi2 berasa stuck dan stress, gue coba balik lagi inget2 pertanyaan dari psikoterapis gue itu. Kenapa gue yang harus usaha? Kenapa gue berusaha? Kenapa gue begini keras berusaha? Kenapa gue begini keras mikirin? Kenapa masalah ini looping di gue? Kenapa gue?

Setelah beberapa lama, gue akhirnya paham bahwa mungkin ini lebih ke:

  • bagaimana gue tahu kapan gue harus berhenti dan merasa cukup
  • bagaimana gue menerima bahwa meskipun gue melakukan yang terbaik (menurut gue), ada hal-hal yang berada di luar kuasa gue
  • dan bagaimana gue menerima bahwa menjadi seseorang yang gak punya kuasa itu normal, itu ok, itu bukan berarti gue kurang sesuatu

Gue juga baru sadar bahwa gue orangnya suka berencana. Bahkan hal2 kayak reaksi orang itu kadang gue suka prediksi gitu (dan yakin banget). Padahal, ada banyak banget faktor yang tidak bisa gue kontrol yang mempengaruhi dunia di sekitar gue.

That simple fact terlewat dari gue.

Dan sedang gue coba introduce lagi. The beauty of not knowing the world outsides you.

Jadinya ada rasa takut sih. Somehow jadi bener2 curiga aja karena tiba2 gue kayak ga bisa bener2 yakin dan tahu bagaimana event akan bergulir dan people’s reactions terhadap tindakan gue. Jadi sangat sangat hati2 dan takut2.

Tapi hatinya agak lega. Karena untuk beberapa masalah udah bisa pelan2 gue sortir mana yang emang udah ga bisa diapa2in lagi dan emang udah harus dipasrahin aja.

Udah Man, cukup.

Gak bisa diapa2in lagi.

You did enough.

You are enough.

Let it go.

Tapi iya sih, kadang gue pikir ya rasa dendam, marah, sedih, malu, kecewa, itu ya ada juga akarnya dari pikiran bahwa I could do better or they should be better.

Dan untuk akhirnya mikir: no one should do better. I learned something and that’s enough. Kalau gak bikin salah, kalau gak merasakan sakit ini, pembelajaran ini ga akan ada. It’s illogical to ask for wisdom but avoiding hurts and pains in the process.

Bisa mikir gitu tuh kuat banget (for me).

There are things that I should not think about anymore. And that’s okay.

Okay.