On Acknowledging Feelings

Masih dalam perjalanan improve mental health, kan terakhir belajar untuk memvalidasi perasaan, ya. Jadi yaudah, selama 1 bulan lebih ini udah belajar 3 hal:

  1. Menerima dan mengakui perasaan yang muncul
  2. Menerima bahwa terkadang ada hal-hal di luar kontrol dan gak ada lagi yang bisa gue lakukan
  3. Fokus ke diri sendiri, fokus ke apa yang bisa gue ubah.

Ngerubah pola pikir itu gak gampang. Ada kalanya gue kayak masih bertanya-tanya: Emang apa yang bisa gue ubah? Emang apa yang bisa gue fokusin di diri sendiri? Dan gue kayak harus ngingetin diri sendiri dulu: iya Man, fokus ke diri sendiri tuh kayak lo sesimpel milih: mau makan apa hari ini? Badan gue lagi rasanya apa, lelah kah? Apakah gue butuh makanan pedas? Apakah butuh minum vitamin? Apakah butuh olahraga ringan aja? Juga kayak sekadar jalan buat cari body butter yang baunya lo suka.

To feel happy tapi ya karena diri sendiri aja. Gak karena ada orang lain yang nemenin, atau merhatiin, atau orang lain melihat lo sebagai apa.

Ada sih kadang bocor2 gak sehatnya, another unhealthy obsession, another self-deprecating thoughts, another dendam salah alamat, tapi dari diri gw pribadi merasa sudah lebih membaik, frekuensinya semakin berkurang selama setahun belakangan.

Somehow, saat apa yang ada di pikiran perlahan2 dibenerin, rasanya ke badan juga beda. Salah satunya gue bisa handle appetite gue lebih baik, somehow bisa ngerasain kenyang aja dan bisa beneran berhenti. Dan bisa gitu gak mau makan sesuatu karena rasanya ga enak atau udah ga fresh lagi (I used to eat just because my mouth need to munch on something).

So I’ll continue that. Hehehe.

So that’s that about validating feelings, belakangan tuh entah kenapa prosesnya lagi mengarah untuk keluar dari head dan coba lebih banyak tanya rasanya di hati apa.

Gak untuk semua urusan sih, untuk saat ini paling yang hubungan dengan manusia aja.

Karena gue baru sadar bahwa bahkan saat berurusan dengan hal-hal kayak hubungan antar manusia pun gue menganalisanya kayak gue lagi mau pitching project: 5 steps ahead, with references, timeline, objective, dll dsb.

Misal gue temenan sama orang, gue merasa orang ini cocok nih ama gue, buat orang lain yaudah kan, berhenti sampe situ.

Nah tapi buat gue gak berhenti sampai situ. Gue merasa orang ini akan lebih cocok lagi ama gue kalau begini, kalau begitu. I explore possibilities, make plans. Jadinya kadang, karena ada harapan itu, selain kekecewaan gue bisa gede banget kalau ga tercapai (I am quite hardheaded about this kind of thing), gue kadang mengabaikan rasa-rasa gak nyaman atau red flags yang gue anggap kecil atau gak penting.

Gue baru sadar bahwa those small little red flags yang membuat gue agak mikir 2-3 kali untuk percaya, untuk jalan bareng, untuk cerita, untuk kasi waktu, tenaga, dan pikiran gue.

Itu penting.

Bahkan yang ga bisa dijelaskan aja penting banget.

Gue pernah merasa dekat sama orang sebut saja X, tapi saat gue mengalami sesuatu yang bener-bener traumatis, X bukan orang pertama yang gue hubungi, tapi orang lain. Karena at the back of my head gue tahu X ga bakal peduli dan gue entah kenapa berpikir gue harus terima itu.

Kenapa juga gue mendefinisikan X sebagai a person that is close to my heart kalau dia gak peduli dengan apa yang terjadi ama gue?

Karena gue merasa mungkin dia tidak peduli saat ini tapi one day dia akan peduli.

So yes, I need to change this. It’s not healthy and it hurts so much to have conflicting feelings and hidden agendas all the time.

Ini terus terang selain dari sesi psikoterapi gue, gue banyak belajar tentang acknowledging feelings ini juga dari (jangan judge gue dulu) channel2 supernatural yang belakangan sering gue tonton =)). Ada banyak energi dan memori yang ceritanya itu mereka dijahatin sama temen yang udah temenan dari kecil lah, temen kerja yang udah jalan 4 kali, keluarga dekat, dan hampir semuanya bilang ‘gue sebenernya ada ragu tapi gue abaikan and look where I am today’.

Itu kena ke gue, sih. Gue juga ada sisi di mana gue pengin banget disayang dan disenengin orang sampe gue rela do anything, termasuk (ternyata) mengabaikan red flags, jadi gue bercermin banget tentang hal ini.

I want to end my breath with positive, great energy within me, so ok, I’ll listen to this one.

Nah mungkin bisa dibilang gue beruntung karena selama hidup gue selalu ketemu sama orang yang kalau pun jahat, cuma sampai tahap bullying kata-kata aja.

Ada satu orang di masa lalu gue yang gue anggap sahabat tapi ya ternyata dia cuma butuh melampiaskan emosi dia dan ketidakpuasan dia akan hidup sama orang lain, and the person yang kena getahnya is me yang kena dibully dengan kata-kata dan perlakuan seenaknya terus. Butuh waktu 3 tahun berteman sama dia untuk akhirnya gue bener-bener sadar bahwa orang tersebut memang gak pantes banget ditemenin sama gue, and I left him forever for good.

Dan ada juga 3-4 teman dan sahabat di masa SD, SMP, SMA, kuliah, bahkan dunia kerja, yang gue lupakan dan tinggalkan karena mereka berbuat sesuatu yang efeknya ga baik buat gue: manfaatin, ngomongin jelek di belakang, ngomong kasar, merendahkan, negative vibes.

So when I need to cut ties, I cut ties for good. I burn the bridge and never look behind. Gue punya capability untuk itu.

Tapi kalau boleh jujur, pada kenyataannya ada orang-orang yang sebenernya seharusnya sudah gue tempatkan di ‘gudang pikiran’ gue sejak lama, tapi memori dan sosoknya masih gue pajang di rak terdepan.

Gue bertahun-tahun juga nanya ke diri sendiri: kenapa. Kenapa gue ga bisa let go aja gitu. Udah ga ada lagi kenangan baik yang terbaru, gak ada lagi yang bisa dijadiin alasan buat happy with this person’s presence sebenernya. So why do I stay?

Selain ego bahwa gue ga akan salah nilai orang (but I did), ya itu, I have plans. Too much plans. And I decide things based on possibilities.

So I ignore the red flags.

But today, I try to think again about those red flags that I ignored, coba memaafkan diri sendiri for all the mishaps and misjudgments that I made, dan coba kasi waktu untuk diri gue berduka dulu deh (kalau memang masih ada sesal, masih ada rasa kehilangan).

Dan coba beneran tanya ke gue saat ini: rasanya di hati apa.

And one day, if I meet all of that persons again in another setting, another time, I will ask myself again: rasanya di hati apa.

And I will not ignore the red flags again.

Yuk bisa yuk.