Banda Aceh di Atas Daun Pisang

Mie Aceh Mi Razali

5 hari 4 malam saya berkunjung ke Banda Aceh dan Pulau Weh, sebisa mungkin saya manfaatkan untuk mencicipi kuliner lokal.

Memang, salah satu motivasi saya datang ke Banda Aceh adalah untuk napak tilas buku karangan Laksmi Pamuntjak favorit saya: Aruna dan Lidahnya. Di dalam buku, ada satu scene di mana Aruna makan Rujak Aceh. Hanya itu saja cukup membuat saya penasaran hingga rela terbang ke ujung barat Indonesia.

Tentu saja, dengan jadwal yang cukup padat, tidak semua bisa saya kecap. Tapi setiap hidangan punya cerita akan tempat di mana saya menemukannya dan bagaimana saya jatuh cinta atau mungkin hanya sekadar pertemuan tanpa makna.

Maka izinkanlah saya berbagi cerita, seperti bagaimana Laksmi Pamuntjak dan Aruna berhasil menarik saya ke tempat ini.

Kopi Sanger

“Kalau bingung, cari kedai kopi saja. Banda Aceh isinya kedai kopi semua.”

Begitu masuk ke area kota Banda Aceh, setiap sudut dihiasi kedai kopi. Semua ada, mulai dari yang terlihat merakyat dengan kursi-kursi plastik toska yang sedikit kusam terkena debu, meja kayu, dan udara terbuka, hingga yang instagrammable dengan dekorasi edgy, pendingin udara, dan dipenuhi anak muda.

Tapi yang dijual sama. Kopi dan mie goreng khas Aceh yang biasanya menemani.

Ada kopi gayo Arabica. Ada kopi gayo Robusta. Pak Bahrul, supir yang menjemput saya dari bandara, bilang bahwa semasa bujang dulu bisa 5 kali dalam sehari ngopi-ngopi di kedai (dan saya berpikir apa dia selalu ngopi setelah salat wajib? atau sebelum?). Dia juga meyakinkan bahwa jarang sekali ada 2 jenis kopi Arabica dan Robusta yang dijual dalam 1 kedai.

Saya yang masih pemula di bidang seruput kopi hanya bisa iya-iya saja. Bedanya Robusta dan Arabica pun saya belum tahu. Apa saja kopi yang diberikan pada saya, asal ditemani susu dan gula, diminum sebelum siang agar malam tidak seperti burung hantu, dan diawali dengan makan berat agar perut tidak berontak, akan saya terima.

Kopi di Aceh yang pertama saya coba adalah kopi gayo Arabica campur coklat dan susu di salah satu kedai di Pelabuhan Ulee Lheue (bacanya Ulele bukan Uleleu – saya dikoreksi 3 kali sama supir grab yang mengantar saya ke sana: U-LE-LE, Kak!). Hari masih pagi, saya sudah sarapan Nasi Gurih dengan Ayam Tangkap, jadi saya berani. Seruputan pertama, saya langsung mengernyit karena rasanya manis sekali. Kalau boleh saya simpulkan, orang Aceh memang suka minuman manis. Semua minuman yang saya pesan di sana dari teh hangat, kopi, hingga es jeruk dan es coklat, semuanya manis.

Hari ketiga dan keempat masih hanya icip2 kopi susu gayo (entah arabica atau robusta) sedikit-sedikit saja.

Baru di hari kelima, saat menunggu boarding pesawat pulang ke Jakarta, saya berani mencoba Kopi Sanger alias Kopi Sama-sama Ngerti.

Kopi Sanger yang merupakan perpaduan 3:1

Bukan apa-apa, saya dengar Kopi Sanger itu dibuat dengan rasio kopi banding susu 3:1. Katanya, dulu kopi ini ada untuk orang-orang yang tak punya cukup uang untuk membeli susu. Itulah mengapa namanya Kopi Sama-sama Ngerti.

Teman seperjalanan saya, Mba Ratna yang sudah lebih berpengalaman di dunia perkopian, bilang bahwa Kopi Sanger bandara itu enak sekali. Lebih enak dari Kopi Sanger di Pantai Iboih, Pulau Weh, yang dibuat oleh barista lokal. Jadilah saya semakin tertarik mencoba.

Dan ternyata, memang rasanya kuat sekali. Yang kali itu, kopinya tidak terlalu manis di lidah. Kepala saya cerlang seketika (tapi saya sedang tidak bekerja jadi akhirnya saya menghabiskan 3 jam di pesawat menulis blog menggunakan notepad HP). Rasa kencang di kepala dan mata saya bertahan hingga sore. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Mba Ratna bisa minum 2 cup.

Kupi Khop

Adalah lagi-lagi Mba Ratna, yang mengenalkan saya pada Kupi Khop – kopi yang disajikan dengan gelas terbalik. Kalau di Banda Aceh kemarin, kedai kopi yang menyajikan kupi khop dan saya kunjungi namanya Kopi Khop (to the point) di Lueng Bata.

Konon, tradisi minum kopi dengan gelas terbalik di atas piring ini dibawa dari Meulaboh, sebuah kota nelayan di barat provinsi Aceh. Saya tadinya berpikir gelas dibalik itu ada supaya kopi cepat dingin, seperti tradisi orang Jawa yang meletakkan kopi atau teh pada lepek (piring kecil) dan ditiup-tiup atau dikipas agar bisa diseruput tanpa membakar lidah.

Tapi ternyata, tradisi gelas dibalik di Meulaboh itu ada justru untuk menjaga kopi tetap hangat meski diminum sedikit-sedikit oleh nelayan-nelayan yang sibuk mondar-mandir atau mengobrol.

Kopi yang digunakan dalam kupi khop biasanya tubruk atau biji kopi pecah. Diletakkan di gelas tinggi kaca tembus pandang, dicampur susu dan gula jika mau, lalu dibalik di atas piring kaca.

Cara minum kupi khop di masa sekarang menggunakan sedotan plastik. Tiup ujung gelas yang bertemu dengan piring, hingga gelembung udara masuk ke dalam gelas. Air kopi akan keluar sedikit demi sedikit, selanjutnya tinggal sedot saja dengan sedotan atau seruput dari pinggir piring.

Rasanya menarik, seperti sedang bermain. 15 menit pertama saya gagal mengeluarkan air kopi dengan lancar, tapi setelahnya Mba Ratna berhasil melatih saya hingga pandai.

Gulai Bebek Merah

Di hari pertama saya di Banda Aceh, setelah menaruh tas dan istirahat sejenak di Lala Hostel di area Kuta Alam (recommended!), saya segera naik Grab Car menuju restoran Bu Sie Itek Bireuen Ustadz Heri yang terletak di dekat Suzuya Mall Banda Aceh.

Restorannya berdinding tegel putih, dengan display ala restoran Padang yang berada di dekat pintu masuk. Tak ada pintu. Kipas-kipas angin ditempatkan di sekitar meja-meja besar.

Saya duduk di salah satu meja dan melihat sekeliling. Tak tahu bagaimana cara memesan.

Saya menunggu, dan tidak ada yang datang. Saat mulai berpikir untuk menghampiri dapur atau kasir, tahu-tahu seseorang meletakkan piring berisi nasi, dan 3 piring kecil lainnya berisi sayur tumis bunga pepaya (horee), lalu lauk semacam rendang berwarna merah dan opor berwarna putih.

Sebelum orang itu pergi, segera saya berkata “saya ingin gulai bebek.”, sang pelayan pun menunjuk piring-piring lauk di meja saya, “Itu bebek. Itu yang merah. Dan yang putih.”

Oh. Wow. Wooow.

Gulai Bebek Merah dan Sayur Kembang Pepaya di Restoran Bu Sie Iteuk Bireuen Ustadz Heri

Saya pun gembira, dan akhirnya setelah berpikir panjang, saya memutuskan untuk memilih Gulai Bebek Merah saja karena setelah dari sana masih mau mencicipi Mi goreng Aceh di restoran lain.

Daging bebek yang gurih dan liat, dicampur dengan bumbu rempah rendang yang lumer di atas nasi. Sayur kembang pepaya yang gurih sedikit pahit menambah perbendaharaan rasa di lidah.

Enak. Sayangnya bebeknya sedikit kurang empuk dan makanan yang disajikan sudah dingin. Mungkin karena terlalu lama dipajang di display.

Tapi meski begitu, setengah nasi habis. Jari dijilat hingga berbunyi. Piring lauk Gulai Bebek Merah pun bersih tandas.

Keumamah

Di hari keempat perjalanan saya di Banda Aceh, saya menginap di Hotel Mulana OYO 632 di Jalan Teungku di Anjong.

Pagi itu, saya keluar sendiri mencari sarapan. Setelah menimbang-nimbang antara lontong kari lima ribu rupiah, gerobak nasi gurih, atau kedai kopi dan mi aceh, pilihan saya jatuh pada lapak jualan tanpa nama di depan hotel persis.

Seorang ibu menjaga jualan makanan berat dan kue-kue kecil pada meja panjang berlapis vinyl. Ada bungkusan daun pisang bertuliskan Nasi Ikan dan Nasi Ayam, ada kue ketan beraneka warna dengan selai srikaya dan kelapa, ada juga plastik-plastik bening berisikan lauk.

Kue-kue basah yang biasanya merupakan campuran ketan, tepung tapioka dan srikaya, lempernya enak sekali mirip Lalampa Manado

Saya masih punya nasi putih sisa makan malam, jadi saya memutuskan untuk membeli sedikit lauk. Saya memilih satu plastik bening berisikan lauk tumis berkuah berwarna kecoklatan dengan potongan cabai hijau dan merah.

Saat saya tanya, ibu penjual berkata bahwa itu adalah Keumamah, lauk ikan kayu khas Aceh.

Saya kembali ke lobi hotel dengan membawa hasil buruan saya hari itu: Keumamah dan kue-kue kecil. Lalu setelah meminjam piring dan sendok hotel, saya pun mulai menyantap sarapan.

Keumamah saya tumpahkan di atas nasi putih. Kuahnya tumpah mewarnai nasi. Saat saya masukkan sesuap ke mulut, rasa asin gurih manis asam pedas meledak di lidah.

Keumamah yang terbuat dari Ikan Kayu dan bumbu-bumbu rempah

Akhirnya, saya menemukan another masakan Aceh yang sesuai selera lidah Melayu Jawa saya ini.

Begitu tergila-gilanya saya, hingga saya rela jalan 10 menit dari hotel ke Pasar Kartini Peunayong hanya untuk mencari asam sunti, salah satu bumbu dasar masakan aceh. Saya sudah bertekad untuk mencoba masak Keumamah di Jakarta.

Asam sunti yang baunya wangi

Sate Gurita

Salah satu highlight of the trip adalah kunjungan rombongan grup perjalanan saya ke Pulau Weh, pulau paling barat Indonesia. Tanya punya tanya, selain Rujak Sabang yang unik karena menyertakan buah rumbia (tapi manis luar biasa karena pakai biang gula, sampai kedai penjual dihinggapi lebah), Pulau Weh juga terkenal akan Sate Gurita.

Rujak Buah Pulau Weh dekat Monumen Nol Kilometer yang manis luar biasa bumbunya 😀

Setelah sibuk ke sana ke mari sehari penuh sesuai itinerary di Pulau Weh, akhirnya kami sampai di homestay kami di Pantai Iboih (bacanya iboh). Rencananya, besok kami akan menyeberang sedikit ke Pulau Rubiah untuk snorkeling, jadi kami punya waktu untuk istirahat dan tentu saja wisata kuliner.

Saya dan Mba Ratna mampir ke beberapa kedai di Pantai Iboih. Hal pertama yang saya tanyakan: Apakah ada sate gurita?

Tapi setelah dua penjaga kedai berkata tidak karena habis stok gurita, dan mereka juga bilang bahwa gurita baru akan ada besok sore, sedangkan itinerary kami mengatakan bahwa kami akan pergi dari Pantai Iboih sebelum makan siang, saya jadi sedikit putus asa.

Tapi malam harinya, seorang teman perjalanan berkata bahwa dia baru makan sate gurita di gerobak depan homestay. Jadilah saya dan Mba Ratna turun dari kamar dan segera memesan dua piring.

Sambil menunggu, kami memutuskan untuk minum sesuatu yang hangat di kedai kopi Iboih, Tabuna Coffee. Mba Ratna tentu saja memesan kopi sanger (dan dia masih bisa tidur nyenyak sesudahnya), sedangkan saya yang newbie kopi memutuskan memesan teh hangat saja.

Setelah waktu yang cukup lama (karena banyak pembeli yang mengantre – teman-teman saya juga) akhirnya saya bisa mencicipi sate gurita Pantai Iboih.

Sate Gurita Pantai Iboih, Pulau Weh, biasanya bisa disajikan dengan lontong

Kuahnya kacang campur kecap yang cair. Guritanya dipotong kecil-kecil lalu ditusuk dengan lidi sate. Tak sampai 2 menit, satenya habis begitu saja.

Saya pribadi, membayangkan betapa enaknya jika guritanya dibakar dalam keadaan masih utuh, atau dicampur dengan adonan takoyaki dan ditaburi katsuoboshi.

Mie Aceh

Bahkan sebelum saya menjejakkan kaki di Bandara Sultan Iskandar Muda pun, saya sudah bertekad untuk menemukan mie goreng yang paling enak di Banda Aceh.

Maka, di hari pertama, setelah puas mencicipi Gulai Bebek Merah, saya pun segera memesan Grab Car untuk mengunjungi Mie Razali di Jalan Panglima Polem.

Setelah berpikir antara mie goreng kepiting yang porsinya konon besar dan mie goreng udang, saya akhirnya memutuskan memilih yang terakhir, dengan alasan supaya bisa saya bungkus dengan mudah jika saya kekenyangan.

Rasanya enak, tapi kalau dibandingkan dengan mie goreng Aceh yang pernah saya cicipi di Jakarta, seperti kurang bumbu dan kurang wangi baunya. Saya mencari-cari citarasa cengkeh, tapi bahkan rasa pedasnya pun tak terlalu kentara.

Mie Aceh Mi Razali
Mie Aceh Mi Razali

Barulah di hari keempat kunjungan saya, Mba Ratna (yang juga foodie, heheh) mengajak saya mengunjungi Mie Bardi di area Lam Lagang. Mba Ratna sudah berkunjung ke sana semalam sebelumnya dan tidak keberatan untuk makan menu yang sama lagi karena enaknya.

Di perjalanan, supir grab yang mengantar saya dan mba ratna berkata bahwa Mie Bardi itu memang enak luar biasa. Dia biasanya mengantar banyak tamu ke sana. Kalau ada pejabat yang datang ke Banda Aceh, biasanya dijamu di Mie Bardi. Harganya pun memang lebih mahal dari mie aceh lainnya.

“Orang Aceh itu suka kuah, Kak. Bahkan saat Kakak memesan mi goreng, pasti ada kuahnya sedikit,” begitu kata supir Grab menambahkan.

Saya jadi berpikir kenapa mi goreng yang saya makan di Mie Razali tak ada kuahnya barang sedikit, pun mi goreng aceh yang saya makan di Jakarta.

Di depan restoran Mie Bardi, ada gerobak bertuliskan nasi bebek (tapi saya ke situ untuk makan mi!) dan ada dapur lengkap dengan akuarium berisi kepiting segar.

Saat saya melihat menu, ada tulisan Mi Spesial yang harganya 110 ribu. Saya tanya ke Mba Ratna, apakah Mi Spesial yang dipesannya semalam terlalu besar porsinya? Mba Ratna bilang sepertinya ok-ok saja kalau mau dimakan satu orang (saya).

Maka tanpa banyak berpikir lagi, saya pesan Mi Spesial, lengkap dengan ‘bumbu penyedap’ tapi sedikit saja (Mba Ratna pesan banyak).

15 menit kemudian, sepiring mi Aceh yang menggunung lengkap dengan kepiting, cumi, udang, telur ceplok, dan kemungkinan daging sapi (saya lupa tanya) hadir. Kuahnya merah kecoklatan. Daun pandan, kare, dan jeruk terselip di antara mie yang gendut.

Tanpa permisi atau menawarkan mba Ratna untuk makan sedikit (maaf ya mbak, tapi semalam sebelumnya sudah kan, ya?) saya pun menyantap mi dengan semangat.

Itu juga adalah kali pertama saya makan kepiting utuh. Ada banyak kenangan yang bisa saya bawa pulang hari itu.

Meskipun tetap saja tak sekuat rasa mi aceh yang pernah saya coba di Jakarta, mi spesial restoran Mi Bardi yang saya makan kali itu hangat di perut. Ada rasa khas yang akhirnya bisa benar-benar saya resapi. Saya makan tanpa jeda. Mengunyah mi hingga tandas, baru makan kepiting sesudahnya. Ada sesekali saya mengunyah seperti daging sapi atau daging kambing, tapi saya bahkan tak sempat bertanya.

Setelah makan, rasanya ringan dan hangat, bahagia.

Saya tahu mungkin saya tak akan pernah bisa mendapatkan rasa yang benar-benar sama di Jakarta.

Tapi setidaknya, setelah ini, kalau saya mampir ke restoran mie aceh, saya akan pesan mi kuah atau mi goreng yang diberi sedikit kuah. Lalu saya akan memilih seafood kepiting udang cumi daripada sekadar ayam atau sapi saja.

Akhirnya saya menemukan Mie Aceh yang bisa saya ceritakan di Jakarta.

The ultimate Mie Aceh goes to Mie Bardi

Karena keterbatasan waktu, masih ada beberapa kuliner Aceh yang sayangnya belum sempat saya cicipi, yaitu Nasi Goreng Kambing restoran Lem Bahri, Ayam Tangkap RM Pramugari, dan Sate Matang Yakin Rasa.

Berawal dari sekadar Rujak Aceh, saya menemukan banyak kuliner Banda Aceh yang menawan hati. Buat saya, Keumamah masih juaranya. 😀

Semoga suatu hari akan ada post versi II dari kuliner Banda Aceh di atas daun pisang!