Your Feelings Are Valid.

I decided to put a new category on my blog: Mental Health. I think this mental health journey that I am currently having will go on for a long time, and I think I will have to learn until I can’t. So, that’s that.

Learning new things about myself and about human in particular on each of my session. There’s this statement of my psychotherapist that I remembered the most from my latest session:

Amanda, semua yang kamu rasakan itu valid.

And it cleared my head just like that.

Funny how I used to be so oblivious of some simple things like that. Bahkan saat denger itu (dan happy) gw sempet mikir dulu: “Does it?”

Tapi terus coba mikir dan gali-gali sendiri, dan iya sih, maksudnya perasaan dan pikiran yang muncul saat kita menerima informasi, baik itu berupa visual, sentuhan, kata-kata, suara, bau, itu valid punya kita. Itu real. Itu nyata. Sesuatu yang bener2 kita rasa.

Jadi saat orang tahu apa pendapat kita, apa yang kita rasa, dan dia ngomong: Ah lo lebay. Ah lo over sensitive. Cemen. Lo harusnya bisa lebih nyante. Lo harusnya ga marah. Yang lain aja nyante, kok lo enggak? Yang lain berani, ko lo enggak?

Ya gak logis aja ngomong gitu. Karena perasaan dan pikiran ga ada yang bisa ngatur, bahkan diri sendiri ga bisa. Ini orang mau ngatur2 jelas ga bisa.

Yang bisa diatur adalah apa yang kita lakukan terhadap perasaan dan pikiran itu. Semisal ga nyaman di lingkungan tertentu tapi gak mau bikin heboh ya kalau memilih untuk ga ngomong tapi pelan2 melipir dan menjauh itu udh cukup. Tapi untuk tetap bertahan di situasi ga nyaman tanpa melakukan apa2 karena takut ga punya temen, that will be a red flag.

Karena kalau dari pengalaman gue, ga ada yang lebih destruktif dari pada mengabaikan perasaan dan pikiran instinctive pertama saat berhadapan dengan sebuah situasi.

Kalau di gw jatuhnya numpuk karena gue cuekin. Terus sampe akhirnya meledak because I cannot contain it anymore, terus orang2 di sekitar gue heran kenapa seheboh/semarah/sesedih itu padahal kemaren baek2 aja.

Karena numpuk. Somehow nyesel juga merasa bodoh karena dari awal udah ngerasa ga nyaman tapi dijalanin.

Ada satu tips yang gue inget lagi soal maintain feelings ini. This is what my psychotherapist said to me:

Lain kali, kalau rasa itu datang. Terima. Akui kalau kamu emang merasa kayak gitu.

Ngomong aja sama diri sendiri: Oh iya, saya lagi sedih, ya. Iya ini sedih. Iya saya sakit hati. Saya gak terima saya digituin.

Biar pun rasanya konyol. Lakukan. Terima dan tunggu. Nangis aja. Ulang aja. Jangan buru-buru move on. Kasih kesempatan buat diri kamu sendiri untuk berduka.

Karena kalau kamu pura2 gak merasakan hal itu, hasilnya malah ga bagus untuk kamu ke depannya.

Ga gampang, sih. Secara udah kebiasaan untuk nahan diri, untuk suppress feelings (KADANG GENGSI YA KAN), jadinya kadang masih suka toxic, tapi beberapa kali nyoba untuk yaudah duduk diem dan akui aja.

Iya sakit.

Iya ngiri.

Cemburu, huh.

Iya sedih.

Marah. Marah banget. Capek.

Kecewa.

Ngobrol ama diri sendiri aja: “iya marah soalnya gini gini gini, gue kan udah gini gini gini, kok dibalesnya gini gini gini? Lain kali gamau gini gini gini lagi, eneg banget, kurang ajar banget.”

Kalau masih belum puas, coba cari pendengar yang baik. (I did have one friend that would cuss with me and make me feel happy because someone is validating my feelings – I keep him for life.)

I know that life isn’t always fair and most of the time I would have to fight everything by myself.

That’s why I need to be my own best friend.

Your feelings are valid ya, Amanda.

You’re good at analyzing, you’re considering every option, you saw many things in life, and you have a great instinct.

There’s no way that your feelings aren’t valid.

We should trust ourselves more.