Ikan Laut Kebanggaan Desa Nelayan Dusun Pancer, Banyuwangi

Ikan Laut Dusun Pancer

5 hari 4 malam di Banyuwangi, ada 1 kata yang sliwar-sliwer dalam percakapan: Ikan Laut.

Minggu lalu, saya berkesempatan untuk ikut perjalanan seorang rekan kerja, Bilqis, menunaikan tugasnya untuk mengawasi jalannya riset dan capacity building dari sebuah project pembersihan sampah laut oleh nelayan di Dusun Pancer, Banyuwangi.

Bilqis yang sebelah kanan pakai jilbab

Berbeda dari perjalanan kerja-eh-plesir-eh-kerja pada umumnya, kali ini saya bisa terjun langsung. Selama kunjungan kemarin, saya sempat diajak melaut oleh nelayan Dusun Pancer, mengunjungi rumah2nya, bahkan dijamu ikan laut hasil bakaran masyarakat Dusun Pancer.

Sebenarnya, ada 2 desa nelayan yang saya kunjungi saat trip saya ke Banyuwangi kemarin. Yang pertama, Pancer. Dan yang kedua, Muncar. Tapi saya lebih banyak menghabiskan waktu di Dusun Pancer.

Dari ngobrol2, saya paham benar bahwa masyarakat Dusun Pancer bangga dengan hasil laut mereka.

“Lha kita itu kalau main ke kota lain, dijamu di restorannya, suka bingung kalau dikasih ikan. Kita pikir, ini ikan apa, sih?”

“Ya mending makan di sini. Gak beli, kadang dikasih gratis. Baru ditangkep dari laut!”

“Mereka bilang itu ikan tongkol. Lha tongkol apa? Tongkol tuh ada 50 jenis, lho! Tongkol yang mana?”

“Pernah mereka bilang itu ikan Bawal, apanya yang Bawal, itu?”

Waktu saya menyebut bahwa ya kalau mau dapet ikan fresh di Jakarta, saya bisanya makan ikan air tawar seperti Gurame, Nila, Patin, Mas, mereka melengos kecewa.

Ya saya juga sih ya salah, pake nyinggung soal ikan air tawar padahal mereka semua jago2 ikan laut.

Tapi melihat hampir semua penduduk Dusun Pancer membahas soal ikan laut dengan kebanggaan dan kepiawaian setaraf artisan, saya jadi ikut manggut-manggut.

Di Dusun Pancer, hampir semua prianya nelayan. Sekali melaut, bisa sampai 5 hari, mengarungi laut lepas pantai pancer berpuluh-puluh kilometer dan kembali dengan hampir 3 ton ikan di 1 kapal.

Lagi wawancara pak Agus, salah satu nelayan Dusun Pancer yang baik hati

Ikan yang didapat juga kadang yang level kelas berat. Tuna seberat 100 kg pun ada. Tapi biasanya yang level tinggi begini langsung diekspor ke luar negeri dengan harga tinggi.

Masyarakat lokal biasanya terjamin makan sehari2nya dengan ikan2 hasil tangkapan gratis dari varian Kanang, Blereng, dan banyak ikan dengan nama lokal lainnya.

Bapak Nelayan: Itu namanya ikan Kanang

Saya: Karena ada garis kuningnya ya pak?

Bapak Nelayan: Bukan.

Saya: Tapi itu ada garis kuningnya..

Bapak Nelayan: Bukan.

Lesson learned: kalau soal ikan, jangan ngelawan nelayan Dusun Pancer deh, ya. Gak usah sok ngide juga.

Ini yang namanya Ikan Kanang. Ada kan itu kayak stabilo tipis kuning deket mata ikan? ADA KAN?

Bapak Nelayan: Itu namanya ikan Blereng

Saya: Karena… perutnya blereng? (Blereng = bergaris)

Bapak Nelayan: Betul.

Saya (dalam hati): Yay.

Kadang jawaban saya bener juga.

Ikan Laut Dusun Pancer
Tebakanku benar! Ikan Blereng

Lain waktu, saat sedang asik makan ikan. Pak Sukam, tetua dari Dusun Pancer memberi tips:

“Di sini kalau makan, nasinya biasanya sedikit saja, lauk ikannya yang banyak.”

Dipadu nasi panas, bayam dan kol kukus, cah kangkung, serta sambal ulek kemangi khas Dusun Pancer, bahkan restoran sunda kuring2 jelas lewat. Ada rasa manis, gurih, dan asin yang pas di bumbu ikan bakarnya. Kolnya manis padahal hanya dikukus. Bayam kukusnya lembut di lidah. Di atas itu semua, sambal kemanginya menambah selera.

Ini biar ngiler.

Sedap pokoknya. Luar biasa.

“Saya pernah sekali coba makan Lumba-lumba. Enak. Tapi saya gak suka ikan Pari.”

Sedikit sisi gelap di area tersebut, saya sempat menemukan ada banyak potongan ekor Lumba-lumba yang tercecer sembarangan di sisi muara dan pantai nelayan Pancer. Bangkai organ ekor Lumba-lumba itu tersebar di atas pasir pantai.

Pernah sekali saya menemukan ada tujuh buah potongan ekor lumba-lumba yang hanya berjarak 1-2 meter antara satu dan yang lainnya. Seperti tangkapan yang ditarik terburu-buru di tengah malam buta. Saat ditanya siapa yang berbuat, tak ada yang tahu. Semua diam, semua membisu dengan muka sedih, sedikit tak suka.

Saya juga tak mengerti mengapa hanya ekor yang tersisa dan dibiarkan terbengkalai. Apakah berarti yang dikonsumsi hanyalah badannya dan ekornya tidak dianggap cukup berharga?

Atau sebaliknya, hanya ekor saja yang diperjualbelikan secara ilegal di luar sana?

ini bukan pelaku, dia cuma megang doang

Meski kalah populer dari Muncar, pelabuhan di Banyuwangi yang dijuluki minapolitan dan terkenal akan pasar ikannya, saya merasa Pancer lebih bersih lautnya.

Soal kebersihan laut ini juga sudah mulai dipahami oleh para nelayan Dusun Pancer. Mereka bilang, sejak mereka bantu bersihkan laut, ikan-ikan mulai mau mendekat. Kalau sebelumnya mereka baru bisa menemukan ikan saat berlayar berpuluh-puluh kilo, sekarang kurang dari sepuluh kilo saja sudah ada.

Hal ini terbukti saat terakhir saya ikut melaut dengan maksud untuk melihat langsung kondisi laut lepas Pantai Pancer yang konon sesekali muncul sampah anorganik, lautnya biru tanpa cela.

“Lah tumben ini Mbak, biasanya dapet lah 3-4 kali tangkapan sampah.”

bersih dan tenangnya kayak gini

Kami menunggu selama 5 jam lamanya di tengah laut lepas, menggunakan sekoci berukuran 4 x 1 meter yang hanya cukup untuk 4 orang. Laut bersih, luas dan biru, tapi di hari itu juga para nelayan yang berbaik hati membawa kami melaut tak kunjung mendapatkan tangkapan udang.

“Gak dapet tangkapan, gak makan malem ini…”

“Nyangkut aja ora, iki!”

berusaha keras ga mabok laut

Di tengah laut tenang lepas mahgrib saya merebahkan diri di sekoci sambil memandang langit, berharap para nelayan segera mendapatkan lauk makan malam mereka.

Setengah lagi berharap agar saya tidak mabuk laut karena kepala rasanya mulai dingin seperti terendam air.

Tapi malam semakin larut, hingga bulan sabit muncul dan bintang2 mulai lengkap membentuk rasi yang biasa saya lihat di buku-buku astrologi. Saya sempat tertidur sebentar dan saat bangun, saya masih terombang-ambing di tengah laut.

Jam 8 malam. Para nelayan tak kunjung mendapatkan udang. Maka mereka memutuskan untuk pulang.

Pantai nelayan dusun pancer hanya bersinarkan bulan dan lampu-lampu hijau-merah dari kapal2 yang ditambat tali. Kapal nelayan yang kami tumpangi merupakan satu-satunya kapal yang berlampu.

Cuma satu lampu kapal aja malam itu

Saat daratan sudah dekat, saya kerepotan mencari sandal dalam cahaya minim. Begitu kaki akhirnya menyentuh pasir yang kasar dan air pantai yang dingin, ada rasa lega yang membuat saya kembali semangat.

“Besok mau ikut melaut lagi? Mau cari gurita. Tapi biasanya lebih lama karena medannya lebih susah, ada karang-karang. Kemungkinan kalau ga biasa bisa mabuk laut.”

Tentu saja kami menolak tawaran yang sangat baik hati itu dengan sopan.

Di pantai dan laut lepas Dusun Pancer, desa yang diapit pulau-pulau dengan kandungan mineral berharga, laut sebiru kulit tuna, pasir pantai putih, dan langit malam yang berbintang, mereka berbagi dan menyatukan identitas dengan hasil laut yang melimpah.

Setiap kali melihat ikan laut, saya akan ingat kata-kata seorang nelayan Dusun Pancer:

“Mohon maaf kami ini kalau makan ikan laut pilih-pilih, kalau yang di supermarket dan restoran itu sudah mingguan bahkan bulanan disimpan, mana kami bisa makan!”

Kesimpulan: kalau nanti bapak2 nelayan pada main ke kota mending dijamu selain hasil laut. Jangan ikan air tawar, nanti dipandang dengan tatapan iba sama mereka.

2 Replies to “Ikan Laut Kebanggaan Desa Nelayan Dusun Pancer, Banyuwangi”

  1. Gyahahah, Epik banget Manda. Apalagi line terakhir: “nanti dipandang iba sama mereka” 🤣
    Tapi emang bener sih, walau ikan laut kelas swalayan pun, aku lebih suka kemanamana daripada ikan air tawar. Mungkin kecuali gurame dan patin, yg tetap suka. Dulu di pintu belakang Giant dekat rumah (G. Cimanggis), ada yg buka lapak ikan segar, “impor” langsung dari pasar ikan Jakut. Gw rasa pasti tetap jauh ya level segarnya dengan level segar standar mereka, tapi itu aja udah girang setengah mati😂. Sejak Pandemi gak pernah ke sana lagi, semoga masih buka lapaknya, walau udah tutup Giant-nya🤲🏼

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *