Mengapa Ali & Ratu Ratu Queens Tidak Perlu Menjadi Favorit Semua Orang (Sebuah Review)

Ali & Ratu Ratu Queens

Kebetulan, saya sudah lama menjadi fans setia Gina S. Noer, penulis skenarionya.

Sejauh ini, saya selalu cocok dengan bagaimana Gina dan tim meramu cerita: Detail, karakter perempuan yang tangguh. Semua bagian dari naskahnya dibuat dari awal hingga akhir untuk menyampaikan pesan penting yang mendalam – yang membuat penontonnya berpikir, atau tersentuh karena akhirnya ada yang cukup peka untuk menyorot topik yang mungkin dianggap tabu.

Setidaknya begitulah yang saya rasakan setelah saya menonton Hari untuk Amanda, Perempuan Berkalung Sorban, Posesif, Dua Garis Biru, juga Ali & Ratu Ratu Queens. Semua menyentuh hati saya. Semua merupakan buah karya Gina.

Bagaimana Ali & Ratu Ratu Queens Seharusnya Disimak

Ali & Ratu Ratu Queen sejujurnya memang bukan personal favorite saya di antara karya2 Gina lainnya (mine would be: Posesif), tapi sesuatu yang akan saya rekomendasikan jika ada yang sekiranya tertarik/butuh menonton film dengan setidaknya salah satu tema-tema berikut:

  1. Imigran Indonesia di Queens, USA
  2. Penggemar salah satu castnya.
  3. Kehilangan figur Ibu di usia muda
  4. Tentang menjadi ibu & menjadi individu.

Untuk yang terakhir, sayangnya merupakan alasan utama mengapa ARRQ tidak menjadi favorit beberapa penontonnya, padahal, seperti masakan kari yang berbau kuat, tema menjadi ibu/individu itu adalah daun kari-nya.

Tema bagaimana berbagi identitas antara ibu dan individu adalah tema cerita yang dibawa Ali & Ratu Ratu Queens dari awal hingga akhir. Jika tema ini tidak bisa diterima, tidak akan terasa indah ceritanya.

Setelah ini spoiler alert. If you don’t want me to spoil the fun/sad part, go watch the movie first at Netflix and come back here.

Mia: The Fallen Queen of Queens

Ali (Iqbaal Ramadhan) ada di kaver terdepan materi promonya. Tapi menurut saya, pemeran utama film ini ada 2: Ali dan Mia.

Mia (Marissa Anita) adalah alasan mengapa Ali pergi ke Queens. Bagaimana kita bisa berkisah tentang Ali, tanpa kita duduk dan mendengar cerita Mia?

Mia menjadi tokoh yang dibenci bukan hanya oleh Ratu Ratu Queens (Biyah, Cinta, Ance, Party), tapi juga oleh penonton. Kekesalan kuartet tante-tante Queens pada Mia seakan mewakili kekesalan beberapa penonton:

Kok bisa2nya sih ada ibu kandung mengabaikan anak kandung dan suami seperti itu? Demi apa? Demi mengejar mimpi? Mimpi jadi apa? Penyanyi kafe? Itu yang namanya mimpi? Lalu setelah gagal bukannya pulang ke tanah air malah menikah lagi dengan orang lain dan memiliki 2 anak lainnya untuk apa? Untuk mendapat green card? Hidup bukannya cari pahala!

Tidak apa jika benci. Kebetulan ini bukanlah topik yang mudah dicerna. Apalagi jika topik ini dibawa ke lingkungan yang menggandengkan kata ‘ibu’ dengan keharusan untuk mengesampingkan hasrat pribadi demi mengabdi pada keluarga, pada suami, dan pada anak. Apalagi jika ‘ibu’ hanya bermakna figur mulia tempat surga bermula.

Sebuah opini, seberapa pun dibuat profesional, tidak akan pernah bisa benar-benar netral. Kita sebagai individu hanya mewakili sebagian kecil dari demografi yang begitu luas, begitu beragam.

Saya sendiri sadar itu, maka saat saya membuat karya ataupun menuliskan opini untuk sebuah karya, saya berusaha untuk ingat bahwa tujuan saya bukanlah untuk menyenangkan semua orang. Ukuran profesionalitas saya adalah seberapa dekat tulisan saya dengan objektif dan demografi yang saya sasar. Tapi itu pun tidak pernah bisa benar-benar lepas dari demografi tempat saya bermula.

Pendapat saya dan cara saya bertutur kemungkinan besar akan mewakili seorang perempuan single usia jelang 35, lahir dan besar di Jakarta, di keluarga muslim yang tidak bisa dibilang terlalu religius, yang cukup akrab dengan isu mental health. Bohong jika saya bilang pendapat saya terhadap kisah Ali & Ratu Ratu Queens tidak ada hubungannya dengan cara saya dibesarkan.

Begitupun Ali & Ratu Ratu Queens. Tidak perlu disukai semua orang. Tapi sekiranya, ada dari kalian yang bertanya-tanya mengapa ada beberapa orang bisa menerima kisah Mia, begini mungkin jawaban mereka:

Mia adalah seorang individu. Dia punya mimpi sendiri dan perasaan sendiri, punya keraguan dan ketakutan sendiri, punya masalah dan juga kehidupan sendiri.

Dia menikah di waktu yang tepat. Dia melahirkan Ali di waktu yang tepat. Dia pergi ke New York di waktu yang tepat. Semua itu dia butuhkan agar dia bisa menjadi Mia seutuhnya.

Dia melahirkan Ali, tapi tetap memegang mimpinya erat, tidak menemukan cara untuk menjalankan keduanya dengan cara bersamaan.

Ada banyak perempuan yang merasakan hal yang sama. Beberapa di antaranya sedang menimbang-nimbang antara hidup dan mati. Mia menemani mereka dalam perjalanan sepi itu.

Mia mungkin bukan ratu di hatimu, tapi dia ratu untuk Ali, dan untuk para perempuan yang tidak berada di jalan yang kita jalani tapi ingin mencari kebahagiaan – sama seperti kamu, seperti saya, seperti kita semua.

“Kita diomongin, Bu. Or should I call you Mia?
“Bukan Ali Topan Anak Jalanan aja ngelunjak, lu. Gue gampar, ya.”

*****

Terlepas dari dilema Mia yang begitu mengesankan saya, Marissa Anita emang aktingnya stealing the show banget deh, dari jaman Selamat Pagi, Malam kusudah ngefans. Lagu2nya bagus banget. Shout out to Aurora Ribero sebagai Eva (I really like her here), not mentioning the color palette yang terakota banget (love love love) cocok untuk tema drama keluarga dan karakter Ali serta Ratu Ratu Queens-nya.

Re-watch, guys?

Ali & Ratu Ratu Queens
Ayo lah nonton bareng sambil maskeran sama Ali dan Tante Ance
Cantik banget emang Eva (Aurora Ribero) di siniii aaaaaa
My fav is Tante Biyah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *