Review Drama Korea: Sweet Home (2020)

Sweet Home

Balada Lama Gak Nonton Drakor

Beberapa waktu lalu, ada yang nyolek2 gue via twitter, nanya kapan gue review drama korea lagi.

((nyolek))

Jadi emang setelah kerja kantoran di 2016 gue jadi susah banget cari waktu buat nonton drakor, apalagi ngereview.

Dulu2 tuh, pas gue masih kerja freelance illustrator, gue biasanya bisa tuh gambar sambil nonton drakor. Makanya banyak banget drama korea yang bisa gue lahap, semua gue review.

Nah pas masih awal2 kerja di Cideng dan Bintaro tahun 2016-2017 lalu, gue kan suka berangkat pulang naik busway atau kereta, itu masih bisa deh dikit2 nyempetin nonton di jalan.

Tapi sejak tahun 2018 kerja di Bekasi ga bisa T-T, berangkat pulangnya nyetir sendiri.

Udah gitu sekarang entah kenapa kalau nonton drakor tuh jadi gampang ga betah, apalagi kalau plotnya makjang atau jual romance banget. Jarang banget bisa nemu yang ala-ala Signal atau Misaeng atau komedi ala Marriage Not Dating.

Gitulah ya, terus kemarin gue baru inget, EH GUE ADA NONTON DRAKOR AMPE ABIS DING.

Gue nonton Sweet Home (2020) di Netflix ampe 3 kali gue ulang saking sukanya.

Intip dulu dong trailer ciamiknya

Saat Semua Orang Menjadi Monster

Sweet Home diangkat dari manhwa berjudul sama.

Awalnya gue iseng aja nonton karena merasa plotnya lumayan menarik buat gue. Tentang seorang remaja bernama Cha Hyun-Soo (Song Kang) yang baru saja pindah ke sebuah apartemen murah bernama Green Home di Seoul (kalau di Indo semacam rumah susun kali ya).

Seluruh anggota keluarga Hyun-Soo baru saja meninggal karena kecelakaan, itulah mengapa Hyun-Soo pindah dan hidup sendiri. Hyun-Soo yang pernah menjadi korban bullying sudah lama menolak untuk kembali sekolah. Sikapnya menjadi begitu dingin, dan penyendiri. Setelah keluarganya pergi dan dia harus pindah ke tempat asing tanpa siapa-siapa, Hyun-Soo sudah berencana untuk mati bunuh diri.

Tapi belum genap 2 hari Hyun-Soo tinggal di sana, suatu malam Hyun-Soo menemukan beberapa penghuni apartemen tempatnya tinggal berubah menjadi monster.

Dan ternyata memang Seoul sedang diserang wabah misterius yang mengubah manusia menjadi makhluk mengerikan.

Apakah Hyun-Soo ingin bertahan?

Cobaan apa lagi ini ya gusti – Hyun Soo

*DARI SINI SPOILER*

What’s So Good About Sweet Home

Gue mencoba membagikan drakor ini pada orang2 sekitar gue. Tapi kayaknya emang yang suka banget ampe nonton berkali-kali ya cuma gue.

=))

Kata kakak gue ceritanya aneh, dia ga paham kenapa gue suka (tapi ya ini orang yang sama yang (literally) muntah abis nonton Gravity-nya Sandra Bullock). Banyak temen gue lebih suka Alice in Borderland (2020), drama jepang ala-ala Saw yang keluarnya emang barengan sama Sweet Home.

Terus gue mikir lagi, mungkin gue suka Sweet Home karena gue merasa plotnya itu mewakili teori gue soal personality manusia, dan betapa ceritanya begitu… poetic.

Dor! Kaget, gak? – monster rahang copot

Let me elaborate.

Jadi, gue tuh merasa namanya manusia tuh ga ada yang bener-bener baik, gak ada yang bener-bener buruk. We all have our own monsters inside. Ada si pendengki. Ada si pencemas. Ada yang tak pernah puas. Ada yang semuanya soal selangkangan. Ada yang mata duitan.

Hanya dengan menerima sisi kita itu sepenuhnya kita baru bisa bener-bener mengontrol respons kita. Mirip2 kayak Naruto dan Kyuubi-nya. You can never fight your own selves, you can only accept it, and try to love it, because that monster is the result of your sufferings. The monster in you tries to protect you in its own way, you just have to find a way to compromise with your inner demon.

The monster in you tries to protect you in its own way, you just have to find a way to compromise with your inner demon.

Salah satu monster yang paling memorable: monster mba2 laper berat

Nah, di drama Sweet Home ini, gue melihat monster-monster yang ada itu wujud dari karakter ekstrim manusia-manusianya. Yang sebelumnya aspiring actress dan selalu mengeluh lapar karena harus diet, jadinya monster pemakan manusia (that escalated quickly). Yang sebelumnya kikir dan selalu sensitif soal rambut, jadi monster berambut banyak dari ujung kepala ampe kaki. Ada juga yang baru ditinggal anaknya dan jadi agak depresi, begitu jadi monster, dia jadi monster fetus bayi besar, gak menyakiti siapa-siapa, cuma eksis aja.

Tapi dari semuanya, gue paling amaze sama monster Hyun-Soo.

Sweet Home
Cha Hyun Soo berubah!

Hyun-Soo’s Story

Sebelum menjadi korban bullying, Hyun-Soo anak yang ceria. Keluarganya berkecukupan, meski tidak berlebihan. Orang tuanya lengkap, dia punya satu adik perempuan.

Sewaktu baru masuk SMA, Hyun-Soo pernah mencoba membantu seorang anak laki-laki seumurnya yang terjatuh karena terkena lemparan bola tanpa sengaja. Hyun-Soo mengulurkan tangan untuk membantu bahkan mencoba memberikan minuman dingin, tapi anak laki-laki itu menolak.

Anak laki-laki itu ternyata adalah seorang sosiopat yang suka mengerjai teman-temannya. Dia menjadikan Hyun-Soo target sasarannya karena merasa Hyun-Soo telah menghinanya dengan mencoba membantunya kala itu.

Hyun-Soo yang serba salah

Sejak itu hidup Hyun-Soo berubah menyedihkan. Dia menjadi pemurung, adik perempuannya bahkan tidak mau mengakui dia sebagai kakak di sekolah. Saat Hyun-Soo mencoba untuk melawan, semuanya menjadi semakin runyam. Ternyata bapak anak laki-laki itu adalah bos ayah Hyun-Soo, dan ayah Hyun-Soo pun diberhentikan dari pekerjaannya.

Hyun-Soo berhenti sekolah, memilih untuk mengurung diri. Bahkan Hyun-Soo pernah mencoba bunuh diri sebelumnya dengan menyilet pergelangan tangan kanannya berkali-kali. Beberapa saat sebelum bapak, ibu, dan adik Hyun-Soo meninggal karena kecelakaan, mereka mengajak Hyun-Soo ikut serta untuk berlibur. Tapi Hyun-Soo menolak.

Hyun-Soo merasa dia hanya menjadi sumber masalah. Kalau saja waktu itu dia tidak bersikap sok pahlawan dan mencoba membantu si anak laki-laki itu, semua ini tidak akan terjadi. Keluarganya masih akan hidup. Ayahnya masih bisa bekerja. Dia masih bisa sekolah.

Hyun-Soo menjadi curiga pada semua orang dan memilih untuk tidak terlibat.

Tapi, saat akhirnya Seoul diserang wabah monster, Hyun-Soo perlahan mulai kembali terlibat. Dia yang awalnya berusaha cuek, tak bisa lagi berpura-pura tidak tahu.

Perubahan monster Hyun-Soo cukup unik. Berbeda dari monster lainnya, tubuh Hyun-Soo tetap sama hanya saja lebih kuat, lukanya lebih cepat sembuh, dan matanya berubah hitam legam. Sifatnya yang tadinya takut-takut dan pendiam pun menjadi lebih kasar dan sinis. Tapi Hyun-Soo masih bisa mengendalikan diri.

Dikarenakan keunikannya itu, sisa penghuni apartemen Green Home yang akhirnya berkumpul dan berlindung di lantai dasar pun mengandalkan dirinya untuk berjaga karena Hyun-Soo tidak bisa mati. Hyun-Soo merasa dimanfaatkan, tapi di sisi lain dia juga tidak keberatan untuk membantu.

Penghuni apartemen Green Home yang berlindung di lantai dasar apartemen

Perlahan, Hyun-Soo mulai dekat dengan masing-masing karakter di Green Home: Han Du-Sik dari kamar 1408 si kakek penyandang disabilitas yang jago merakit. Lee Eun-Yoo yang judes tapi sangat peduli. Kim Su-Yong dan Kim Yong-Su, dua anak kecil yang diselamatkan Hyun-Soo. Dan masih banyak lagi.

Mereka semua ingin bertahan, mereka berusaha untuk percaya bahwa pertolongan akan datang. Tapi sebelum itu terjadi, seorang bernama Ui-Myeong masuk ke Green Home dan mengacaukan semuanya. Ui-Myeong termasuk monster unik seperti Hyun-Soo yang bisa mengendalikan diri dan berubah wujud menjadi manusia sesuka hati. Tapi Ui-Myeong kejam, dan tidak segan membunuh orang yang disayangi Hyun-Soo satu per satu.

Karena marah pada Ui Myeong, monster Hyun-Soo yang tadinya hanya sebatas kekuatan super pun berubah wujud. Tangan kanan Hyun-Soo berubah menjadi ribuan pedang tajam panas yang terbuat dari darah dan tulang.

Tangan yang sama yang dulu Hyun-Soo ulurkan untuk menolong temannya. Tangan yang sama yang dia silet berkali-kali agar mati. Tangan yang sama yang dia gunakan untuk menolong keluarga barunya di Green Home.

Tangan yang dia sesali.

One of the best movie scenes that I ever saw huhuhuhuhuhu T-T

Can’t Wait for Season 2

Gue tuh kayak langsung merinding, mata berkaca-kaca gitu pas lihat adegan Hyun-Soo berubah wujud (meski ya tangan kanannya doang). Betapa besar rasa bersalahnya, rasa kecewanya, betapa kerasnya dia mencoba untuk gak merugikan orang lain lagi, padahal sebenarnya dia orang yang sangat peduli dan sangat butuh kehadiran orang lain.

I think that’s why I watched Sweet Home again and again. Emosinya bener-bener kerasa dan ya itu, poetic.

Nah, endingnya Sweet Home (2020) season 1 itu ternyata beda dari versi manhwa-nya. Meski begitu, ending yang serial netflix ini membuka jalan ke season 2.

Huhu kakek Du Sik favoritku, semoga bisa ketemu di season 2 T-T

Gue rada sangsi ceritanya bakal bisa sepoetic season 1, because that’s what happens kalau ceritanya udah melenceng dari kisah penulis awal. Tapi yaudah, mari kita tunggu saja.

Sweet Home Jjang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *