Review Film Indonesia: Dua Garis Biru (2019)

Dua Garis Biru

Dua Garis Biru akhirnya hadir di Netflix dengan judul Two Blue Stripes T-T.

Sebenernya, udah lama ngerencanain nonton film yang naskahnya digarap sama Gina S. Noer ini (my fav scriptwriter), tapi baru sempet sekarang.

Gue suka banget sih ama naskah2nya Gina, selalu detail dan mendalami karakternya ga nanggung2. Sejak nonton Hari untuk Amanda (2010) dulu gue langsung suka karya dia, terus nonton Posesif (2017) dan kagum banget, and now, Dua Garis Biru (2019).

Cukup excited karena katanya Dua Garis Biru ini mengikuti jejak karya Gina sebelumnya, Posesif, yang menjadi dua film yang dikategorikan perlu ditonton anak remaja. Kedua film ini sampai diputar di sekolah-sekolah demi untuk kasih pendidikan awal terkait hubungan percintaan dan risikonya pada dedek-dedek remaja.

Premis

Dua Garis Biru bercerita tentang Bima dan Dara, pasangan remaja yang sedang dimabuk cinta.

Bima datang dari keluarga dengan ekonomi yang biasa saja, punya 1 kakak perempuan yang kerja di Bandung, bapaknya kepala RT dan ibunya punya warung gado-gado. Keluarga Bima tinggal di sebuah rumah yang meski pun tidak kecil-kecil amat, letaknya di gang sempit dekat kali. Nilai Bima pas-pasan, tapi Bima tidak pernah mau menyontek.

Dara bintang kelas. Bermimpi bisa ke Korea Selatan. Punya 1 adik perempuan. Ibunya bekerja kantoran, dan bapaknya punya restoran. Rumahnya luas dengan kolam renang di pekarangan. Dara mungkin terlihat manis, tapi tidak pernah segan mengungkapkan pendapat.

Bima dan Dara berpacaran, duduk sebangku di kelas, ke mana-mana selalu berdua.

Suatu hari saat mereka berdua belum lulus SMA, Dara hamil oleh Bima.

*DARI SINI SPOILER*

Perkembangan Karakter

Yang gue suka dari cerita Dua Garis Biru ini adalah bagaimana Gina, sang penulis skenario sekaligus sutradara, menggambarkan emosi para karakter dengan sangat mendalam.

Bukan cuma emosi Bima dan Dara ya, tapi juga emosi orang tua Dara, orang tua Bima, bahkan kakak perempuan Bima. Bagaimana latar belakang ekonomi dan pendidikan seseorang mempengaruhi bagaimana mereka menyikapi suatu masalah: dalam hal ini, anggota keluarga mereka yang masih remaja sudah harus menjadi orang tua.

Gue tersentuh banget melihat ibu Dara (the one and only Lulu Tobing) yang saat diberitahu bahwa anak perempuannya hamil dan akan dikeluarkan dari sekolah, lalu mendengar Bima berkata bahwa dia akan bertanggung jawab, berkata: “Kamu pikir gampang jadi orang tua? Saya aja gagal jadi orang tua!”

Lalu bagaimana ibu dari Bima (Cut Mini Theo!) yang awalnya terlihat begitu judes dan antipati, menjadi sosok yang sangat ingin merawat cucu pertamanya dengan tangannya sendiri.

Bagaimana bapak Dara (Dwi Sasono) yang awalnya begitu membenci Bima lalu akhirnya menaruh sedikit hormat pada Bima yang bekerja tanpa lelah menjadi pelayan di restorannya.

Bagaimana Dara (Zara Jkt48) yang begitu stress karena sejalan dengan kehamilannya, dia sadar begitu banyak perubahan yang dia alami mulai dari fisik hingga mental, begitu banyak kesempatan dalam hidupnya yang mungkin tak akan pernah bisa ia raih lagi.

Dan bagaimana Bima (Angga Yunanda) yang awalnya begitu clueless, begitu polos, akhirnya menjadi sedikit lebih dewasa dan menerima perannya sebagai seorang ayah di usia muda.

Semua tokoh yang terdampak oleh kehamilan Dara

Risiko Menjadi Orang Tua di Usia Belia

Gue suka sih dengan kegamblangan film Dua Garis Biru ini dalam memperlihatkan apa saja risiko yang mungkin terjadi jika seseorang memutuskan untuk menjadi orang tua saat fisik dan pikiran mereka belum cukup matang.

Bima diceritakan mengalami banyak beban mental karena ingin sekali menjadi seorang bapak yang bisa memberikan nafkah bagi istri dan calon anaknya (iya, akhirnya mereka nikah gitu), tapi terbatasi oleh ketidakcukupan edukasi dan sulit membagi waktu antara sekolah dan kerja. Tapi di film ini yang digambarkan sangat kehilangan dari segi mental dan fisik adalah Dara.

Di akhir cerita, Dara terpaksa harus menjalani pengangkatan rahim setelah melahirkan karena pendarahannya tidak kunjung berhenti.

Dara hamil tua, Bima pusing mikirin keluarga

Hidup Tidak Berakhir di Titik Ini

Ending cerita Dua Garis Biru adalah Dara yang setelah melahirkan Adam (ibu Bima yang memberi nama), memutuskan untuk menyerahkan Adam sepenuhnya pada keluarga Bima dan berangkat untuk sekolah ke Korea Selatan.

Awalnya keluarga Dara ingin menyerahkan Adam pada teman ibu Dara yang tidak memiliki anak. Dara yang awalnya menolak seiring waktu juga akhirnya sadar bahwa dia masih ingin mengejar mimpi, dia tidak siap menjadi seorang ibu, dan akhirnya juga berniat menyerahkan Adam, membiarkan Adam memanggil orang lain ayah dan ibu.

Tapi keluarga Bima (terutama Ibu Bima) tidak setuju. Bima ingin merawat Adam sebagai anaknya. Bahkan jika Dara memutuskan untuk tidak ingin bersamanya lagi ya tidak apa-apa,

Menurut saya ini cukup mengena. Keduanya sama-sama menanggung risiko dan mendapatkan sesuatu. Dara kehilangan kesempatan untuk memiliki anak lagi karena rahimnya telah diangkat, tapi masih bisa memenuhi mimpinya untuk terbang ke Korea Selatan dan sekolah di sana.

Bima mendapatkan Adam untuk dirawat bersama keluarganya. Tidak tahu siap atau tidak, dia akan menjalani perannya sebagai ayah tunggal di usia yang cukup muda.

Keduanya, Bima dan Dara, selamanya akan menjadi orang tua.

Selamanya akan ingat betapa mereka kehilangan masa remaja karena keputusan yang tidak mereka pikir matang-matang.

Masih banyak waktu buat jadi dewasa, sekarang nikmatin dulu aja masa remajanya

The Takes Out

Saya kira tuh selama ini anak saya perempuan, karena kan di test pack waktu itu dua garisnya kan pink gitu, ya. Ternyata laki-laki, toh…”

– Bima saat diberitahu bahwa jenis kelamin anaknya laki-laki

Pendidikan seks dan menjadi orang tua itu penting. Seberapa pun gak nyamannya, gak ada yang namanya tabu untuk memberitahu anak-anak remaja itu apa saja risiko dari pilihan-pilihan yang mereka ambil.

Bukan berarti menjadi orang tua di usia muda itu jelek. Tapi ada risikonya.

Bukan berarti jatuh cinta di usia muda itu salah. Tapi ada risikonya.

Tanpa bisa dihindari, pilihan mereka akan mempengaruhi bagaimana mereka berteman, pendidikan mereka, keluarga mereka, mental, fisik, juga masa depan mereka.

Jadi sebaiknya memang harus dilakukan dengan sadar.

Kalau pun tidak, kalau pun mereka terlanjur terlibat, masih ada titik cerah yang menunggu, jadi jangan menyerah.

Hanya karena menjadi orang tua di usia muda tidak membuat seseorang lebih rendah. Tidak mengurangi kualitas seseorang sebagai manusia yang berguna.

Hidup masih bisa berjalan beriringan dengan indahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *