Review Film Indonesia “Quarantine Tales” (2020)

Quarantine Tales

Another movie yang dirilis di bioskoponline.com tahun 2020 lalu.

Bukannya lagi promo ya, emang karena merasa bagus jadi mau direview aja.

Kali ini omnibus, tentang 5 kisah berlatar pandemi COVID-19 di Indonesia.

Ada 5 cerita, langsung gue review aja (*SPOILER ALERT*):

Nougat

Sutradara: Dian Sastro

Tentang 3 saudari yang sudah ditinggalkan kedua orang tuanya: Ubay (Marisa Anita), Ajeng (Adinia Wirasti) dan Deno (Faradina Mufti). Ceritanya mainly digambarkan via percakapan online mereka dari sejak 2010 sampai 2020. Dari zaman Skype, WhatsApp Call, sampai Zoom, sudah pernah mereka jalani.

Sejak kedua orang tua mereka meninggal sebelum 2010 itu, mereka jadi jarang bertemu dan menjalani hidup masing-masing, padahal ketiganya tinggal 1 kota. Ubay si anak sulung sibuk dengan keluarganya setelah menikah. Deno si bungsu setelah lulus kuliah memutuskan tinggal bareng pacarnya. Hanya Ajeng yang bertahan di rumah peninggalan orang tua mereka dan harus berkutat dengan kenangan dan biaya perawatan rumah tersebut.

My verdict: Manis sih, tapi kayak kurang kerasa tema pandemi-nya aja. Akhirnya mereka bertiga bertemu, tapi gak karena pandemi juga. Karena kenangan es krim nougat. Udah gitu doang. Kurang nampol.

Prankster

Sutradara: Jason Iskandar

Ceritanya tentang bintang youtube yang suka ngisengin orang dengan nama panggung Didit Iseng (Roy Sungkono). Dia lagi bikin konten live, ngisengin seorang cewek yang kayaknya terkenal karena usaha bakingnya namanya Aurel (Windy Apsari).

Sebelum itu, Didit pernah ngisengin Aurel juga dengan cara masukin semacam bubuk kimia sabun ke kue yang dikonsumsi Aurel. Years later, Didit ngisengin Aurel lagi atas nama promosi produk Aurel juga, dan Aurel baru ngomong bahwa sejak diisengin Didit dulu itu, Aurel udah ga bisa ngerasain manis, asin, pahit, kecut. Lidah Aurel cacat permanen.

My verdict: prankster ini yang menurut gue salah satu yang agak dark. Gue suka, tapi idenya terlalu mentah terus pendek banget. Kurang twist.

Cook Book

Sutradara: Ifa Isfansyah

Film Indonesia yang berlatar pandemi COVID-19 pertama gue itu Selamanya, Sementara yang dibintangi Reza Rahadian (recommended). Formatnya miniseries, tayangnya waktu itu eksklusif vidio.com (pertengahan 2020). Menurut gue, ceritanya Cook Book ini somehow mengingatkan gue akan plot Selamanya, Sementara. Ceritanya tentang chef yang terpaksa stay di rumah selama pandemi, jadinya menyibukkan diri dengan membuat resep2 baru untuk didokumentasikan dan dituliskan menjadi buku masak.

*SPOILER*

Selama kesendiriannya di rumah itu, si pemeran utama jadi agak2 halu. Dia merasa berkomunikasi via online call dengan seorang cewek SMA yang umurnya jauh sekali darinya. Cewek itu mengajaknya bertemu untuk bercinta karena katanya mereka adalah 2 orang terakhir di dunia ini (saya sempat pikir itu karena pandemi yang diceritakan memburuk di plot ini, tapi banyak juga adegan pembataian dan kerusuhan).

Di akhir cerita, diperlihatkan bahwa perempuan yang dibayangkan oleh pemeran utama adalah pacarnya yang meninggal akibat kerusuhan 98.

My verdict: Sedikit bingung dengan percampuran tema antara pandemi, karantina, dan tragedi 98. Not my best favourite, tapi bukan yang terburuk juga.

Happy Girls Don’t Cry

Sutradara: Aco Tenri

Dari semuanya, gue paling suka cerita yang ini.

Kisahnya tentang keluarga miskin yang tinggal di rumah petakan. Hanya 1 kamar tidur, 1 kamar mandi, dan ruang tamu. Tepat berada di Tempat Pembuangan Sementara kampung mereka.

Anak perempuan tertua keluarga itu sedang berduka. Beberapa waktu yang lalu, adik laki-lakinya meninggal karena sakit demam. Dengan situasi pandemi yang berkepanjangan, bapaknya yang sedang menjadi pengangguran, sang pemeran utama sedang mencari cara untuk mengisi waktu dan menghilangkan kesedihannya.

Satu-satunya hiburannya adalah dunia maya. Dengan kuota seadanya, si anak perempuan berharap bisa mendapatkan hadiah giveaway berupa desktop computer Apple. Dia menjadikan kondisi keluarganya sebagai konten, dan berhasil menarik perhatian banyak netizen.

Saat akhirnya hadiah untuknya datang, bapak dan ibunya langsung berencana menjual hadiah giveaway tersebut, untuk segera membayar hutang pada lintah darat dan membayar uang kontrakan rumah yang menunggak. Mereka bertengkar, dan akhirnya terungkaplah kesusahan hati masing-masing.

My verdict: Yang buat gue suka sama cerita ini, betapa emosinya raw banget dan betapa bapak, ibu, dan anak perempuannya sangat manipulatif satu sama lain. Betapa tuntutan ekonomi dan situasi pandemi membuat mereka seperti itu.

The Protocols

Sutradara: Sidhrata Tata

Tentang seorang pria yang terjebak di sebuah jalan persawahan yang sepi. Sebelumnya, dia tidak sendiri. Tapi teman seperjalanannya meninggal tiba-tiba setelah sesak napas. Mereka baru saja melakukan kejahatan, dan bosnya menelfon memintanya untuk segera melanjutkan tugasnya. Tapi saat bosnya tahu bahwa salah satu anak buahnya meninggal dalam tugas, dia diperintahkan untuk menguburkan mayatnya.

Takut tertular, si pria mati2an berusaha untuk mencari masker dan pelindung darurat. Berkali-kali dia mencuci tangan dan tubuhnya untuk menjaga diri dari penyakit. Meski usahanya terkesan sia-sia, dan berkali-kali dia harus memegang mayat secara langsung, tapi si pria berusaha keras untuk mengikuti protokol.

My verdict: Menurut gue, ini yang paling lucu di antara semuanya. Betapa kengerian pandemi berpengaruh pada semua orang, termasuk orang-orang yang hidup di dunia hitam.


Lumayan, sih. Tapi agak bikin heran karena meskipun temanya karantina selama pandemi, justru virus COVID-19-nya tuh ga pernah dimention. Sebagian besar plotnya tuh berkesan kayak tipe2 cerita yang bisa dieksplor di tengah pandemi saja, makanya banyak yang pakai video call.

Boleh lah, gak sabar nonton film2 indonesia lainnya dari bioskoponline.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *