Mau cerita2 dikit tentang dunia saya pasca menyelesaikan proses penulisan The Two Runaways.

Baru selesai nulisnya, ya. Belum editing sama proofreading ulang keseluruhan naskah. Emang sengaja ambil jeda ga langsung edit + proofread supaya bisa langsung next naskah berikutnya.

Jadi karena tahun lalu (dan tahun sebelumnya) saya merasa saya kebanyakan baca. Tahun 2021 ini saya memaksa diri sendiri untuk lebih banyak menulis.

Baik itu berarti menulis keseharian atau review di blog, menulis fiksi cerpen, puisi atau novel. Pokoknya nulis.

Nah, jadinya, karena saya pengin punya banyak tabungan draf novel di tahun 2021 ini, saya mau skip dulu nih proses editing + proofreading + publishing The Two Runaways buat nulis another draf novel baru, kalau bisa nerusin dari ide cerita yang udah bertahun2 disimpen.

Biasanya, ini proses yang menyenangkan. Tapi mungkin karena sekarang nuntut diri sendiri untuk harus cepet2 milih plot buat dikembangkan, jadinya agak bingung sendiri.

Biasanya, saat nulis novel, saya suka punya agenda buat menantang diri sendiri.

Waktu nulis My Love G, saya pengin membuktikan apakah saya bisa menyelesaikan novel sampai selesai. Karena baru awal mula dan ceritanya mainly tentang persahabatan dan cinta antar grup anak muda, saya pilih POV orang ketiga. Tema persahabatan itu merupakan tema yang penting banget untuk saya, jadi saya pilih untuk jadi tema pertama yang saya eksplor. Ini tuh aslinya pengin lanjut jadi paling gak duologi, tapi ga sempet2 haduuu.

Waktu nulis Amora Menolak Cinta, saya pengin membuktikan apakah saya bisa bercerita mendalam tentang perasaan 1 tokoh yang gak bisa tahu apa perasaan tokoh lainnya. Makanya saya pakai POV orang pertama. Saya juga pengin memuaskan ambisi saya untuk nulis cerita tentang cinta yang digambarkan dari sisi sains/logika. Idenya kurleb mirip kayak The Rosie Project by Graeme Simsion.

Waktu menulis The Two Runaways, saya pengin membuktikan apakah saya bisa bercerita tentang perasaan 2 tokoh secara bersamaan. Makanya saya bikin cerita dalam POV orang pertama tapi dua tokoh, dibuat bergantian selang-seling.

Kalau referensi novel lokal yang menggunakan POV orang pertama tapi multiple main casts tuh kayak Melbourne: Rewind-nya Winna Efendi atau Sunset Holiday-nya Nina Ardianti dan Mahir Pradana.

Idenya perjalanan road trip keliling Jawa (because I love road trip so much, but I don’t get to experience it that often), ala-ala Before Sunrise tapi lokal. Di cerita ini juga saya ingin menggambarkan tentang Peter Pan Syndrome, dan ketakutan untuk menjadi dewasa dan terjun ke masyarakat.

Terus untuk novel ke-4, saya lagi split dengan berbagai macam tujuan, nih:

  1. Pengin nulis sesuatu yang happy, semacam rom-com, ada motif, ada rintangan, tapi bikin yang baca senyum-senyum ngakak.
  2. Pengin nyoba nulis gak melulu pengalaman saya, tapi pengin coba dari pengalaman orang lain.
  3. Pengin coba menulis tema fantasi atau scifi.
  4. Pengin mencoba menulis dengan format epistolary.
  5. Pengin mencoba menulis terinspirasi dari lagu atau album musik yang saya suka tapi yang versi panjang, bukan cuma cerpen yang terinspirasi dari musik kayak biasanya.
  6. Pengin mencoba nulis dan mengeksplor karir/keahlian tertentu sambil cerita plot yang mungkin dekat dengan keahlian tersebut, contohnya:
    1. glass-blowing dan sifat rapuh (gara2 nonton Blown Away Netflix nih)
    2. illustrasi dan sifat imaginatif cenderung skizofrenia (karena gue emang udah punya skillnya tapi kurang diasah aja hahahahaha)
    3. Atau mungkin profesi social media admin dan kejahatan netizen.

Di saat yang sama ngeksplor dari ide2 yang udah ada kemarin2. Pengin banget bisa segera nemu mana yang paling oke dan paling ada kontennya buat dikembangin, tapi lagi ragu banget. Malah belakangan jadi suka nonton video2 eksplorasi dunia mistis. Ga paham lagi lah :)).

DANNNN… kendala paling susahnya pagi penulis di masa2 sekarang adalah:

Ini semisal gue nulis cerita tema saat ini, haruskah gue masukin suasana pandemi? Jadi tokoh2 gue pake masker dan jaga jarak gitu? Kerjaannya terdampak? Gak bisa kemana2?

Karena kalau mau masukin tema pandemi, semacam belum banyak tema yang bisa gue eksplor (rasanya masih aneh aja gitu, misal perselingkuhan tengah pandemi? terus ketahuannya gara2 ketularan apa gimana?).

Tapi kalau gak dimasukin tema pandemi, rasanya kayak kurang real. Sedangkan kayak udah otomatis aja sebagai penulis itu pengin nyari yang paling kerasa real bagi para pembaca (dan bagi gue sendiri).

I believe I am not alone sih soal ini T-T. Tapi apa gituh solusinyaaa.

Gara2 ini, gue jadi bener2 nyadar sih, bahwa nulis cerita itu terkoneksi banget sama segala macam mood. Mood sendiri, mood sekeliling. Mungkin gara2 ini juga penulis2 fav gue pada mandeg karyanya di 2020 lalu, karena gak tau harus berharap pandemi berakhir dan bisa kembali normal, atau udah aja nulis dengan keyakinan, this is the new normal.

Tapi jauh di dalam hati, kita selalu berharap bisa kembali ke normal yang dulu sih kayaknya. Pengin bisa cerita dengan latar belakang bandara tanpa protokol pandemi, pengin cerita kisah cinta di kereta tanpa harus ditest nafas dulu sebelum masuk kereta. Kalaupun perselingkuhan, gak lantas abis itu salah seorang meninggal terus bingung nyari kuburnya di mana. Kontak fisik, kedekatan, pertemuan, itu bagian dari cerita sehari2 manusia. Bahkan saat tokohnya mungkin seorang penyendiri atau terasingkan, akan ada referensi ke arah sana, baik itu berupa flashback atau kerinduan. So it’s not easy.

Mungkin jadinya mau cerita masa depan aja, post apocalypse gitu?

Wish me luck!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *