Sebuah Tragedi

He was only twenty-five
Had an open heart and tender mind
He sang through all the hymns he knew
He was searching for a higher sign
When his water was turned to wine

(Tragedy – Norah Jones)

*Cerita ini dibuat dalam rangka program Hear and Write

Sebuah Tragedi

Rainy Amanda

Apa ceritamu?

Aku menahan napas. Menepuk-nepuk kosong udara di sekitarku dengan sebelah tangan. Dengan sia-sia berusaha menghalau debu yang mendadak melayang dari lembaran album foto tua yang baru saja kubuka.

Bau apak membuat tenggorokanku mendadak menjadi gatal, maka kuletakkan album foto itu pada boks yang barusan kuturunkan dari atas lemari pakaian. Aku bergegas menuju jendela satu-satunya di ruangan yang kutebak berukuran kurang-lebih 5×4 meter ini.

Setelah menarik tirai perlahan, aku menemukan jendela yang berukuran cukup besar. Kacanya buram karena debu, tapi saat cerah, kamar ini pasti akan mendepatkan banyak sinar matahari. Sayangnya, hari telah lewat siang menuju sore, dan cuaca sedang temaram menjenguk hujan. Aku menggeser slot kunci dan mendorong kusen, lalu merasakan udara sejuk berhembus pelan menyapa sudut-sudut ruangan yang pasti telah lama tak menyapa dunia luar.

Aku membiarkan lampu tetap menyala, kemudian kembali mendudukkan diri di hadapan meja belajar tua yang menjadi satu dengan rak buku rendah di bagian kepala. Meja itu sederhana tapi kokoh dengan sudut-sudut tajam. Mengingat sifat kakekku, meja ini pasti berbahan kayu jati. Sedangkan kotak kardus dengan  banyak album foto tua di dalamnya, yang saat ini teronggok dengan banyak jejak debu, ini adalah sifat nenekku. Jauh sebelum ingatannya melemah pun, nenekku suka sekali mengumpulkan foto-foto.

Sejak kecil, aku sering sekali menemukan foto di sudut-sudut rumah kakek dan nenekku. Foto nenekku bersama tetangga di Singapura, sewaktu beliau masih gadis dulu. Foto tanteku, anak perempuan sulung kakek dan nenekku, saat ulang tahun ketujuh belas-nya. Foto pamanku bersama teman-teman sekolah dasarnya saat berlatih karate bersama. Bahkan foto artis Amerika tahun 50-an yang jelas-jelas diambil dari potongan koran tua. Serta foto pohon tua yang konon berumur genap 200 tahun di kebun kerabat jauh di Palembang sana.

Hampir semua kisah di dalam foto-foto koleksi nenekku tersebut biasa saja. Tentang orang biasa dengan hidup yang biasa dan meninggalkan dunia dengan cara biasa. Tak banyak tragedi di dalamnya. Namun sejak dulu, aku memang dikaruniai kemampuan tukang ghibah nomor wahid. Aku pandai menambahkan bumbu cerita agar semakin menarik untuk didengar. Maka di tanganku, kisah pohon mangga manis dengan daging mengkal milik Haji Sulaiman sahabat kakekku menjadi kisah horror yang meminta tumbal bayi perempuan di dasar akar. Foto pamanku bersama teman-temannya dengan seragam karate menjadi kisah persahabatan ala Mallory Towers. Pun foto pesta ulang tahun ketujuh belas tanteku kubumbui dengan kisah gaun bermodel mermaid yang dijahit sendiri oleh tanteku dengan mengumpulkan bahan-bahan bekas di rumah, termasuk karung goni beras dan peniti (tanteku merengek memesan gaun setahun sebelumnya dari kenalan Kakek).

Untungnya, semua cerita karanganku itu hanya berani kutuangkan di buku harianku saja. Barulah saat aku lulus SMA, aku sadar bahwa yang kulakukan itu telah dilakukan oleh banyak penulis novel fiksi lainnya. Maka aku pun menulis, dan hingga 12 tahun sesudahnya aku telah menerbitkan lima buku.

Hingga hari ini, di kala ide ceritaku mandeg, aku masih mencari-cari bahan cerita dari sekelilingku untuk nantinya kutambahkan bumbu tragedi. Barulah kemarin aku mengingat hobi masa kecilku dan kupikir kenapa tidak kukunjungi lagi foto-foto koleksi nenekku, untuk nantinya kudandani sedikit dan mungkin bisa kujual menjadi cerita? Bukankah beliau telah beberapa kali mengundangku untuk main dan menyambanginya di Bogor? Tidakkah aku seharusnya bersikap selayaknya cucu yang manis dan mengabulkan permintaannya?

Sayangnya, saat aku akhirnya meluangkan waktu, nenekku tak lagi ada di sini. Beliau telah menyusul Kakekku 3 bulan sebelumnya. Baru saja nenekku merayakan ulang tahunnya yang ke-81, namun komplikasi diabetes yang telah lama dia derita akhirnya menjadi akhir dari kisahnya.

Saat ini, hanya tanteku dan anak perempuannya yang berusia 15 tahun lebih muda dariku yang mendiami rumah peninggalan kakek dan nenekku. Kudengar, rumah ini akan dijual bulan depan untuk dibagikan sebagai harta warisan. Aku tak ambil pusing tentang itu. Segera setelah mencium tangan tanteku, aku langsung meminta izin untuk melihat album-album foto di ruang depan dekat ruang tamu. Setelah memastikan bahwa aku akan ikut makan malam dan menelfon sepupu perempuanku agar cepat pulang (“Kak Alya sedang main ke sini!”), dan sedikit berbasa-basi menanyakan keseharianku (“Ada anak kenalan Tante sedang mencari istri, Alya ada waktu?”) akhirnya beliau mempersilakanku mengunjungi bagian rumah yang sejak awal kuincar.

Maka di sinilah aku, dikelilingi berkardus-kardus album foto yang menunggu untuk kujelajahi. Tidak banyak sebenarnya, hanya satu kardus di bawah dipan tanpa kasur, dua di atas lemari yang salah satunya kuturunkan, dan satu di meja kecil bawah jendela. Ruangan ini sedianya adalah kamar, yang seingatku beberapa kali berubah fungsi menjadi kamarku dan sepupu-sepupuku kala menginap di rumah kakek dan nenekku sewaktu aku masih di sekolah dasar dulu.

Suara jam yang berdentang dari luar ruangan membuatku tersadar, entah sejak kapan aku terpekur di hadapan album foto milik nenekku yang beberapa waktu lalu terbuka dan membuatku sesak karena debu.

Ada foto seorang pria di sana. Alisnya tajam, hidungnya sedikit bengkok, dengan bibir tipis. Rambutnya gondrong ditata kribo mirip Rhoma Irama, dua kancing atas kemeja pas badan yang dikenakannya dibiarkan terbuka. Foto itu hanya sebatas pinggang, tapi aku bisa membayangkan celana dengan ujung melebar yang menjadi padanannya – khas tahun 70-an. Fotonya tidak hitam-putih, tapi warnanya kuning sephia.

Di foto itu, pria itu tersenyum lebar.

Kalau kucoba terka, pria di dalam foto itu berusia awal 20-an.

Aku menemukan pria itu di foto lainnya. Di sebuah teras entah di mana, dengan kaus oblong putih dan celana kelewat pendek. Di foto ini tubuh pria itu cenderung kurus, bukan atletis. Mungkin tak lama selepas lulus sekolah menengah pertama. Pria itu sedang membelai kucing putih yang tertidur pulas di pangkuannya, tersenyum kecil, tak sadar dirinya tertangkap oleh kamera. Sangat kontras dengan foto tanteku yang sadar lensa dan terabadikan saat setengah berbicara.

Lalu ada foto lainnya, kakek dan nenekku dengan usia lebih muda. Kakekku dengan jas berwarna abu-abu tua dan dasi, lalu nenekku dengan baju muslim bermotif bunga biru dan kerudung sederhana, mengapit pria beralis tebal yang barusan kutemukan sedang membelai kucing tersebut dengan topi toga dan jas lebar. Sebuah ijazah berada dalam dekapannya. Ketiganya tersenyum amat bangga.

Aku membuka album lainnya, kali ini kuambil dari bawah dipan tanpa kasur. Engsel album itu sudah lapuk, dan sepertinya nenekku telah menggantinya dengan kain sisa jahitan yang diikat begitu rapi. Di album foto itu aku menemukan pria yang sama. Bermain gitar bersama dua pamanku. Berdiri di depan mobil tua VW entah milik siapa. Tertawa lepas bersama tanteku dan anjing spaniel yang berdiri di tengah kebun entah di mana.

Ada sebuah foto hitam-putih, usia foto ini jelas lebih tua. Seorang anak dengan celana terusan yang terlalu ketat di bagian perut. Pipinya tembam, alisnya tebal. Aku tahu ini pria yang sama karena tahi lalat di ujung bawah dagunya, meskipun hidungnya belum terlihat bengkok saat itu. Anak di foto itu tertawa di saat anak lain yang berada di foto bersamanya terlihat menangis histeris. Tapi anak itu tertawa begitu geli, dengan permen lollipop di salah satu genggamannya.

Apa ceritamu? Apa yang membuatmu tergelak begitu rupa?

Betapa cerianya hidupmu, betapa manisnya, betapa cerahnya. Dimanakah tragedimu bermula?

Aku menemukan foto pria itu di foto lainnya, kali ini bersama seorang wanita. Pria itu mengenakan baju pengantin dodotan, terlihat tidak nyaman, namun gagah di samping wanita ramping dengan bibir penuh berwarna merah dan tulang selangka yang begitu kentara. Keduanya tersenyum manis, duduk di kursi tanpa sandaran berhiaskan bunga-bunga merah, hijau, dan ungu.

Lalu foto lainnya, pria yang sama, dengan perut lebih bulat dan kantung mata yang lebih terlihat, berfoto bersama pamanku yang paling muda dengan toga dan ijazah miliknya. Kutebak saat itu usia pria itu baru berkisar 30-an, tapi aku tak tahu mengapa uban-ubannya sudah lebih terlihat.

Aku menerka-nerka. Merangkai kisah tentang anak pemberani yang tak gentar oleh badut konyol yang hadir tiba-tiba di kelas taman bermain tempatnya belajar. Di saat teman-temannya yang lain menangis, hanya dia satu-satunya yang tertawa. Bukan karena si badut, namun karena melihat raut wajah teman-temannya yang mengernyit dan teriakan-teriakan mereka yang bising, membuat Ibu Guru kebingungan.

Anak itu beranjak dewasa, tumbuh menjadi remaja yang cukup populer di kalangan teman-temannya. Di kala cuaca cerah, pemuda tanggung itu akan duduk di teras belakang rumahnya dengan gitar dan es limun. Sesekali teman-temannya datang untuk mencicipi gulai ayam buatan ibu si pemuda yang enak luar biasa, atau menjadi teman bermain catur ayah si pemuda dan saudara-saudaranya.

Beranjak dewasa, pemuda itu kuliah di jurusan teknik. Kedua orang tua pemuda itu luar biasa bangga. Teman ayah si pemuda sudah menawarkan kerja di sebuah perusahaan yang bergengsi, tapi pemuda itu juga ingin bisa meneruskan belajar ke luar negeri. Ada kerabat yang menawarkan untuk berkunjung sebentar ke Belanda, lalu mungkin keliling Eropa, melihat ada peluang apa yang bisa didapatkan di sana. Si pemuda berpikir, mengapa tak dia coba?

Lalu seorang wanita hadir di hidup si pemuda. Mereka bertemu di sebuah pesta ulang tahun saudara jauh si pemuda. Sang wanita berminat di dunia tata busana, semua pakaiannya dia jahit sendiri, termasuk gaun merah yang dikenakannya saat pertama kali bertemu si pemuda. Si pemuda heran, dengan penampilan bak pragawati, si wanita malah ingin menjadi menjadi seseorang di balik layar saja. Sejak hari itu, keduanya tak terpisahkan.

Mereka menikah setahun kemudian. Usia si pemuda belum genap 24, namun langkahnya sudah mantap. Dia tak sabar ingin menjadi seorang pria. Setelah menikah, si pemuda tinggal di rumah orang tua sang wanita. Namun ayah sang wanita meninggal karena sakit, ibunya jatuh sakit tak lama kemudian. Uang keluarga habis terkuras, sang wanita memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikannya di akademi jahit. Di saat yang sama, sang wanita hamil. Rumah sang wanita dijual, uangnya dibagikan pada saudara-saudara si wanita, lalu sepasang suami istri itu membeli rumah kecil di barat Jakarta. Awalnya semua baik-baik saja, lalu resesi melanda. Kantor tempat si pemuda tak bisa bertahan, si pemuda sempat menganggur berbulan-bulan, hingga akhirnya si wanita mendapatkan pekerjaan.

Ekonomi mereka terselamatkan, anak mereka masih mendapatkan susu dan pendidikan, namun ada yang tak pernah kembali di hidup si pemuda.

Ketika akhirnya dia bisa dipanggil seorang pria, mengapa rasa bahagia tak kunjung Ia dapatkan?

Di mana tragedimu bermula?

Kalau memang ada yang kosong, ada yang tak terselesaikan, ada yang butuh kau pastikan, kenapa kau tak beranjak pergi dan mulai semuanya dari awal?

Kenapa tak meminta pertolongan?

Di mana tragedimu bermula?

Terhanyut oleh cerita yang kukarang sendiri, aku membuka halaman terakhir dari album foto keempat yang kutemukan. Ada sebuah foto di sana, berwarna dan masih cukup terang, usianya belum setua foto-foto lainnya. Si pria dengan tahi lalat di dagu duduk memangku seorang bayi gemuk berpipi merah muda. Keduanya tertangkap tanpa menghadap kamera, hanya saling memandang satu sama lain. Sang bayi tertawa. Sang pria memandang dengan raut sama persis dengan fotonya saat remaja dan membelai kucing dalam pangkuan.

Diakah pelakunya?

Diakah yang menahan langkahmu, merebut tawamu, meluluh-lantakkan keberanianmu?

Diakah tragedimu?

Ataukah ini tragedimu? Hari ini. Saat anak di pangkuanmu itu tumbuh dewasa tanpa pernah tahu kisahmu karena kau terlalu sibuk bergaul dengan tuak dan judi. Saat akhirnya kau meninggal di kala anakmu berusia remaja karena pengerasan hati. Hingga akhirnya anakmu harus menerka-nerka kisahmu, perasaanmu, dukamu, sendirimu, berbekal foto yang telah lama neneknya katakan padanya untuk disimpan, sebagai kenang-kenangan akan dirimu. Berkali-kali ibumu meminta anakmu untuk datang, supaya bisa ibumu menceritakan kisahmu pada anak perempuanmu itu, tapi anakmu terus menghindar. Hingga hari ini, saat dia membutuhkan cerita, barulah dia memberanikan diri merasakan sedikit memori tentangmu di sini?

Apakah sudah cukup bumbu cerita yang kurangkai dan kutambahkan? Ataukah perlu kurendam lebih lama dengan alkohol dan kutusuk luka lebih dalam, agar kisahnya sepadan dengan semua yang kau rasakan bertahun-tahun, tanpa pernah kau meminta pertolongan?

Ayah, apakah kehadiranku adalah awal tragedi?

Cukup mendekati kenyataankah cerita karanganku tentangmu ini?

Writer’s note:

Saya mendengar lagu Tragedy by Norah Jones pertama kali di tahun 2016, dan langsung terbayang kisah ini. Saat itu, saya sedang sangat tertarik dengan isu toxic masculinity. Saya berpikir, ada berapa banyak pria yang menjadi korban dari pandangan publik tentang bagaimana seharusnya pria berperan di sebuah masyarakat, komunitas, keluarga. Berapa banyak yang salah paham dengan konsep tanggung jawab, kasih sayang, dan cinta. Berapa banyak yang takut dan lari dari kenyataan, karena tak kuasa meminta pertolongan saat dibutuhkan.

Ada berapa banyak yang berteriak diam-diam dalam hati: biarkan saya menangis, biarkan saya pergi, biarkan saya menenangkan diri. Berapa banyak yang berteriak dengan caranya sendiri, namun semua orang hanya mendengarkan menggunakan stereotipe dan pandangannya masing-masing.

Semua orang hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar.

Berapa banyak tragedi yang tersembunyi, tak pernah diceritakan dan tak pernah bertransformasi menjadi kebijaksanaan yang bisa dipetik banyak orang, karena ketakutan itu mengikuti, hingga mereka mati dalam sendiri, lalu pusaranya melambangkan kenangan tersebut: ketakutan akan ketidakmampuan untuk memenuhi harapan.

Mengutip salah satu buku tentang toxic masculinity yang pernah saya baca berjudul The Man They Wanted Me To Be karya Jared Yates Sexton:

Maybe if he built a cabin with his bare hands, if he killed and prepared their food, if he could survive in the snowy tundra, he’d finally prove himself.

The Man They Wanted Me to Be by Jared Yates Sexton

Tragedi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *