Aku ingin dirimu
Yang menjadi milikku
Bersamaku mulai hari ini
Hilang ruang untuk cinta yang lain

——–

I love you, Asti. Aku kangen. Jangan terlalu lama di sana. Cepat kembali.

Aku mengetikkan sederet pesan balasan. Memastikan kata-kataku cukup pantas untuk 4 kalimat yang teramat manis tersebut. Setelah kutambahkan emoticon hati, aku menyimpan ponselku kembali ke dalam ransel. Aku tak tahu apakah pesanku akan segera sampai, atau akan terlambat karena sinyal yang tak lagi prima, tapi aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan, apalagi setelah pertengkaran hebat kami 5 hari yang lalu, sebelum aku sampai ke tempat ini.

Tak pernah sulit meluluhkan Indra.

Terkadang kekasihku memang bisa bersikap sangat keras kepala. Dan aku telah berulang kali mencoba untuk membuatnya paham akan posisiku, akan perasaanku, dan mengapa aku punya mimpi yang ingin kukejar, kesempatan yang tidak bisa kulewatkan–mimpi yang Indra sebut sebagai ambisi, dan kesempatan yang dianggapnya sebagai distraksi.

Laki-laki yang satu itu gigih luar biasa. Kami bertengkar seminggu lamanya. Tapi aku tahu, Indra tak pernah tahan melihatku menitikkan air mata, dan itulah mengapa aku bisa berada di tempat ini, membaca pesan dari kekasihku itu di antara pepohonan hijau tinggi di hutan lindung Tanjung Puting.

Ah, bukan sekadar kekasih. Tunangan. Indra telah menyematkan sebentuk cincin di jari manisku 6 bulan yang lalu. Belum benar-benar resmi, hanya kami berdua, di kencan kesekian untuk memperingati 4 tahun kami bersama.

Cincin yang sedikit longgar dan menjadi pengalih perhatianku belakangan ini. Aku akan memutar dan merasakan dinginnya logam platina tersebut di kulitku. Meneliti kilau peraknya. Berpikir: apa yang Indra pikirkan saat memilih benda tersebut? Cincin inikah alasan mengapa Indra menjadi semakin protektif padaku belakangan ini?

Maksudku, Indra mengambil cuti seminggu, di tengah kesibukannya menggarap proyek film layar lebar bersama sutradara yang telah lama dia kagumi, hanya untuk mengajakku mampir ke rumah neneknya di Filipina. Itulah alasan mengapa dia begitu kecewa saat aku mendadak mengatakan padanya bahwa akhirnya kunjungan riset yang sudah lama kutunggu-tunggu akan dimulai. Di hari yang sama dengan rencana perjalanan kami.

Aku tahu dia ingin mengenalkanku pada lingkungan tempat ayah kandungnya dibesarkan. Siapa yang tahu bahwa dia berencana untuk melamarku lagi, di depan keluarga besarnya? Tapi apa mau dikata? Kesempatan mungkin tak datang 2 kali. Darwin, si doktor muda perfeksionis sialan itu, akhirnya setuju untuk mengajakku mengambil data sampel hutan di pedalaman Tanjung Puting bersama tim lokal dan Swedia lainnya, dan aku jelas tak akan berpikir dua kali untuk pergi.

“Butuh bantuan?” tanya sebuah suara. Seorang pria berkulit putih dengan hidung mancung dan mata coklat muda memandangku teduh. Sebelah tangannya terulur, menawarkan dukungan. Ada tim lainnya yang menunggu di belakang sana, jadi aku segera mengiakan dan setengah meloncat dari batu tempatku berpijak, melompati aliran air di sungai kecil yang kami seberangi.

Aku menarik napas. Melonggarkan genggamanku dari jari jemari pria itu. Kualihkan pandanganku sekali lagi pada aliran air jernih yang menimbulkan bunyi gemericik. Dasar aliran sungai kecil ini berbatu dan penuh dengan akar pohon. Berbeda dari area Tanjung Puting lainnya yang merupakan rawa, kami berada di dataran yang sedikit lebih tinggi.

Di belakang sana aku mendengar bunyi cekrik kamera. Salah satu tim fakultasku kembali bertingkah seperti turis, meski sudah beberapa kali kuingatkan untuk lebih fokus, dan tidak membuat malu di depan tim lainnya.

Dasar Darwin, sudah kubilang tak perlu mengirim anak-anak asisten ingusan itu ikut serta.

Aku meluruskan pandangan, tatapanku bertemu dengan si Pria yang tadi menawarkan bantuan. Dia tahu. Aku sudah menceritakan kekhawatiranku padanya semalam. Pria itu melemparkan senyum lalu mengedikkan kepala, seakan berkata “Lupakan, saja. Bule-bule Swedia itu tidak akan berkata apa-apa.”

Kali ini perjalanan kami membawa serta enam orang. Seharusnya ada total 10 orang yang menjadi tamu di hutan lindung Tanjung Puting ini. Enam dari tim fakultasku termasuk aku dan Darwin, sementara 4 orang dari tim Swedia–Hugo dan kawan-kawannya. Kami disambut dan didampingi oleh tim yang sudah ada lebih dulu dan mengelola proyek lokal yang sudah berjalan setahun lamanya.

Kali ini, Darwin bersama pemandu dan anggota tim lainnya sudah pergi ke titik yang lain. Sementara aku dan anak-anak asisten ingusan itu, Egi dan Danang, serta dua dari tim Hugo, Maja dan Arvid, dipercaya untuk melihat dan merekam ekosistem sampel di titik yang berjarak 20 km dari tenda dan kabin kami, dan kali ini harus dicapai dengan berjalan kaki.

Pria yang barusan membantuku itu, yang sekarang berjalan di depanku seraya sesekali mencuri lirik, merupakan pemandu kami.

Aku sempat melihat pandangan ingin tahu Danang, saat tanpa sengaja melihat Pria itu mengusap keringat di dahiku. Aku tidak berkata apa-apa. Menjelaskan atau membahas itu hanya akan membuat semuanya semakin janggal.

Lagipula memang tidak ada apa-apa. Aku tidak sedang berkhianat dari Indra atau bagaimana. Kalau ada yang selalu Indra curigai, itu adalah Darwin. Pernah sekali tanpa sengaja Indra bertemu dengan Darwin dan Indra langsung memintaku untuk hati-hati. Seandainya saja Indra tahu betapa menyebalkannya Darwin di dunia nyata, kalau pun benar cowok calon doktor itu mengincarku, aku tak akan mau.

Perjalanan kami sampai di area sungai yang lebih luas. Sungainya dangkal, hanya setengah betis, alirannya juga tidak terlalu kencang. Beberapa dari kami melepas sepatu dan berjalan perlahan menikmati aliran air yang sejuk. Bule-bule Swedia itu tidak peduli dan berjalan begitu saja. Titik yang kami tuju sudah terlihat, hanya 100 meter dari sisi sungai. Kami segera menuju ke sana.

Selepas siang, kami memutuskan untuk rehat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Aku mendudukkan diri di atas sebuah batu besar. Kaki-kaki telanjangku bermain di antara genangan air. Di kejauhan, aku melihat Maja, Arvid, Egi dan Danang mengobrol seru tentang apapun yang mereka anggap seru di hadapan sebuah batang pohon besar. Kamera Danang mengarah pada sebuah pohon yang tengah ditunjuk Arvid, Aji dan Maja ikut berpose di antara mereka.

Darwin pernah bilang bahwa aku terlalu kaku, aku telah kehilangan rasa ingin tahuku yang mentah, dan telah memikirkan segala hal dari segi angka, specimen, dan metode. Indra dan ibuku juga beberapa kali pernah mengatakan hal yang mirip, untuk persoalan yang berbeda. Kali ini aku mengakui bahwa mungkin kata-kata mereka ada benarnya.

Aku menelengkan kepala. Menyipitkan pandangan. Melihat sinar matahari yang mengintip di antara rimbun pepohonan. Tanpa menengok pun aku tahu pria itu sedang memandangku, dia duduk di sampingku, di atas batu yang sama.

“Memikirkan apa?” tanyanya. Aku menoleh, menemukan pandangan teduh Pria itu. Posenya sedikit merunduk. Punggungnya dan tangannya terlihat sangat kokoh. Rambutnya yang dipotong rapi terlihat sedikit kecoklatan dengan ikal-ikal kecil. Kakeknya asli Bugis, tapi neneknya merupakan seorang Belanda.

“Enggak,” jawabku pendek. Sedikit malu karena aku menahan diri. Padahal sudah beberapa malam ini kami bertukar cerita. Tapi itu hanya kami berdua. Saat ini ada Maja, Arvid, Egi dan Danang yang siap bergabung kapan saja. Aku tak mau membuat situasi jadi canggung. Aku tak mau momenku bersamanya diganggu. Jadi kupikir, aku hanya akan bercerita nanti saja, selepas makan malam, setelah semua orang pergi tidur di tenda dan kabin masing-masing, ditemani teh panas. Seperti biasa.

Pria itu mengangguk pelan. Membuka canteen miliknya dan meneguk air. Kemudian meneruskan kata-katanya, tidak peduli dengan sinyalku yang menolak untuk bicara.

“Buku kamu. Masih ada di aku,” katanya.

Ah. Buku notes milikku. Memang aku membawa benda itu ke kabinnya semalam. Aku ingin menunjukkan puisi-puisi yang kutulis diam-diam.

“Akan kuambil nanti,”

“Besok pagi kamu kembali ke Jakarta,” katanya. Apakah aku melihat pandangannya yang sedikit pahit? Apakah nada suaranya yang membuatku berpikir seperti itu?

“Iya.”

“Keputusanmu sudah bulat?” tanyanya lagi.

Dia tahu soal Indra. Dia tahu soal keraguanku. Soal mimpiku. Soal hidupku. Soal apa yang benar-benar kuinginkan. Ketakutanku. Dia tahu hal-hal yang tak pernah kuceritakan pada Indra selama 2 tahun kami bersama.

“Iya,” jawabku lagi seperti robot.

Dia tahu semuanya. Indra bahkan tidak tahu bahwa dia ada. Menyebut namanya pun aku tak kuasa. Aku tahu yang kulakukan akan menyakiti Indra. Itu mengapa aku menyembunyikannya.

Aku melemparkan pandangan pada Pria itu. Indra akan berpikir bahwa aku menipunya. Menyalahgunakan kepercayaannya saat merelakanku pergi ke tempat ini. Tapi aku bertemu dengan Pria di hadapanku ini. Indra akan menuduhku berpindah hati. Semua orang akan menuduhku begitu.

“Jangan berpikir terlalu berat,” ujarnya seraya menyentuh sisi wajahku dengan punggung tangannya. Dia tak seharusnya begini, dia tahu ada Egi, Danang, Maja dan Arvid di ujung sana. Mereka bisa berpikir macam-macam.

Tapi aku tak mencegahnya. Aku pun sudah tak bisa menahan diri. Aku menumpahkan semuanya padanya beberapa hari ini. Aku tahu bahwa aku akan bertemu dengannya di tempat ini, itulah salah satu alasan mengapa aku begitu ngotot mengikuti ekspedisi ini.

“10 tahun, dan kamu tidak berubah. Masih Asti yang sama,” sambungnya.

Sesuatu dalam perutku bergeliat geli. Oh, Indra, seandainya kamu tahu bahwa sedari awal, pria ini memang sudah ada di hidupku. Dia sudah ada sejak lama, dia tak pernah pergi, aku tak pernah melepaskannya, aku hanya belum berani menyebutkan namanya.

Karena sekali aku menyebutkannya, sekali aku mengakui apa yang aku rasa, aku tak tahu apakah akan ada tempat bagi nama lainnya di hidupku.

Dan Dia tahu itu.


Catatan Penulis:

images (3)

Waktu pertama kali melihat video klip lagu Adu Rayu gubahan Yovie Widianto, Tulus, dan Glenn Fredly, saya langsung suka. Bukan hanya karena lagunya. Tapi karena videoklipnya seperti sneak peek dari sebuah film dengan plot yang matang, apa lagi yang memerankannya adalah aktor dan artis Indonesia yang terhitung piawai.

Lalu, sempat ada diskusi dengan teman-teman terkait video klip ini. Mereka bilang, si Pria (yang dalam video klip diperankan oleh Nicholas Saputra) adalah yang meminta Asti untuk melupakan Indra dan menjadi ‘miliknya’. Tapi kalau saya, melihat bahwa Asti memang sudah mengenal si Pria sejak lama, atau mungkin memang sudah menyimpan rasa sejak lama. Indra (Chiccho Jericho) lah yang datang terlambat, atau mungkin ada, tapi tak pernah benar-benar meninggalkan kesan pada Asti (Velove Vexia). Dan dalam hal ini, mungkin Indra lah yang meminta Asti untuk bertahan bersamanya, dan menjadi ‘milik’nya.

images (4)

Separuh jalan pernah dilewati
Meski ada kecewa
Aku yang dulu tak begitu lagi
Takkan ku ulangi
Jangan duluan kau berpaling
Beri ku kesempatan

Terlepas dari siapa merebut siapa, kalau dilihat lagi, mungkin apa yang dilakukan Asti menyalahi norma. Tapi saya berpikir, soal perasaan, saya rasa akan sama sakitnya jika Asti memilih untuk tidak jujur dan meneruskan apa yang sudah dijalaninya selama ini dengan Indra. Dan semua sama-sama tahu bahwa perasaan terkadang bukanlah sesuatu yang bisa diukur dan diprediksi. Wujudnya yang tak berbentuk, merasuk jauh dan tak tersentuh oleh fisik, membuat pemiliknya terkadang bahkan tak tahu apa yang dia miliki, sampai akhirnya ada sedih dan sendu serta rindu yang menyapa. Jika Asti pada akhirnya memutuskan untuk melihat sejauh apa perasaannya tertinggal dan berpaling, memang tidak ada yang bisa membenarkan, tapi tak ada juga yang bisa menyalahkan.

images (5).jpg

Video klip Adu Rayu Yovie-Tulus-Glenn berakhir dengan pertanyaan besar, tentang siapa yang Asti pilih pada akhirnya (dan cerpen saya ini juga menyisakan pertanyaan yang sama, hanya saja dengan twist yang sedikit diperjelas). Katanya sih, Adu Rayu mau difilmkan. Mari menunggu, dan sambil menunggu, silakan berimajinasi sendiri tentang siapa yang akan dipilih Asti pada akhirnya.

Apa keduanya? Atau tidak keduanya?

Amanda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *