dcc9c38e392bbe5e8609f91a934e87ee--blue-flannel-shirt-blue-shirts

Aku tahu pasti atasan apa yang akan kau kenakan hari itu.

Kemeja bahan flanel bercorak kotak-kotak biru, dengan garis ungu, hijau, dan putih tipis yang saling bersilang siku.

Aku menuliskannya pada secarik kertas, lima menit sebelum kau datang pagi itu. Berpikir mungkin aku akan memberitahu seberapa jauh aku mengenalmu. Lalu aku menyadari bahwa ada dua hal lagi tentangmu yang bisa kuprediksi, dan aku mendadak ragu untuk mengaku.

Kau juga hadir lengkap dengan sepatu kanvas hitam favoritmu.

Berbeda dari kemarin dan hari-hari yang lalu, kau beraroma laut biru yang hanya kau kenakan di hari terbaikmu.

Aku pun tahu bahwa kau tengah menantikan sesuatu.

Maka kuremas secarik kertas itu dan kubuang jauh-jauh dari hadapanmu.

Beberapa orang terlahir menjadi cahaya, dan kau salah satu di antaranya. Tutur katamu menginspirasi. Kebaikanmu mengisi retak. Pikiranmu menerangi. Ide-idemu berteriak tanpa menimbulkan pekak. Ceritamu selalu siap untuk dibagi.

Satu waktu kau akan berkisah tentang rencanamu tiga bulan ke depan terhitung sejak hari ini. Lain hari kau menceritakan trauma masa kecilmu dengan berapi-api. Bicara denganmu tak pernah sulit, tak perlu direncanakan rapi. Identitasmu mudah diingat, mengenalmu menjadi sesuatu yang pasti. Contohnya kemeja kotak biru yang tetap kau beli meski satu nomor lebih besar dari yang biasa kau miliki. Aku masih ingat wajahmu saat menceritakan hal itu dengan nada geli. Namun, berbeda dengan sepatu kanvas dan wewangian yang hanya kau gunakan sesekali, untuk dua hal itu dan banyak detail lainnya, aku menemukan sendiri.

Sama seperti nada suaramu yang berubah lembut saat bicara dengan seseorang yang penting untukmu, atau permainan katamu saat menutupi rasa malu, aku menemukan semuanya sendiri. Aku tahu siapa yang bisa membuatmu bersikap begitu, dan sejak itu, aku mulai berpikir untuk berhenti. Berhenti mengenalmu, berhenti mengingat segala tentangmu.

“Kita jadinya mau berangkat jam berapa?” bisikmu membuyarkan lamunanku. Kau menahan ekspresi, mencuri pandang sesekali.

“2 jam sebelum aja, supaya gak terlalu lama nunggu filmnya mulai,” jawabku mantap.

“Gue kira lo bakal pakai baju biru lo hari ini,” balasmu lagi.

Aku tersenyum dan menggeleng pelan. Kemeja biru kesayanganku memang sudah tergantung rapi di samping peraduanku pagi tadi. Sudah kusiapkan sejak jauh-jauh hari. Namun kusimpan kembali kemeja itu di lemari, dan kukenakan atasan lain yang tidak terlalu kusukai.

Mungkin itu karena aku sudah berfirasat bahwa kau akan mengenakan kemeja kotak birumu hari ini.

There’s not a simple explanation
For the things that I feel
There’s no one word to tell you
Why I do the things that I do
I don’t need you, I just want you
I can’t love you, I’m too scared to

2 Replies to “Kemeja Biru”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *